Kamis, 05 Februari 2015

Kaos Kaki

Hari ini, di sela-sela antrian supermarket yang lumayan panjang, Dea ngedenger percakapan ibu-anak yang agak absurd.

"Ma, Ma, my father is kaos kaki, my mother is kaos kaki," ceplos si anak.
"Berarti kamu anaknya kaos kaki?" tanya mamanya.
"Iya."
"Kalau gitu kamu bukan anak mama, dong ..."
"Anak mama, kan mama kaos kaki ..."
Si mama ngakak, "Enak aja!" 

Diem-diem Dea yang ngantri beberapa baris di belakang mereka ikut cekikikan. Sureal banget, deh, anak delapan taunan itu. Apa ya yang ada di pikirannya waktu tiba-tiba ngerasa jadi anaknya kaos kaki? 

Tapi kalau dipikir-pikir ... nyamain orangtuanya sama kaos kaki bisa jadi cukup manis. Kaos kaki diciptain sepasang. Mereka selalu beraktivitas bersama-sama. Saling ngedukung, bikin anget, ngasih kenyamanan, ngelindungin kaki dari macem-macem, bahkan permukaan sepatu. Kalau udah dicuci dan belum bertugas lagi, sepasang kaos kaki peluk-pelukan dan sayang-sayangan seperti ini:



Semisal Dea mamanya anak itu, Dea nggak akan bilang "Enak aja". Dea justru bakal bilang makasih abis itu nanya balik:

"Dek, anaknya kaos kaki kayak apa? Bukan kaos kaki kecil, deh, kayaknya ..."




 Tentang #Gerakankakidiatasmejatiapjumat bisa diliat di sini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar