Jumat, 26 Agustus 2011

Malaikat Juga Tahu

Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan …*

Meja makan luas tetapi sepi. Hanya ada setengah bakul nasi, sepotong tahu hangat, sepotong dendeng, dan dua gelas air putih.

“Ini buat buka puasa, ya, Bu?” tanya Bintang.

“Iya, cuma ada ini, Nak,” sahut Ibu.

“Aku mau tahunya. Dendengnya buat Ibu,” Bintang langsung memilih.

Jika ini sinetron, Bintang pasti memilih tahu karena ia anak berbakti. Tetapi ini bukan sinetron. Bintang memilih tahu karena menyukai warna kuning yang lebih ceria ketimbang dendeng yang cokelat semu. Selain itu, tahu empuk dan menggemaskan. Tidak gepeng dan kenyal seperti dendeng.

Ibu Bintang banyak menonton sinetron. Jadi ia yakin anak satu-satunya itu berhati malaikat. Tanpa cela seperti anak-anak protagonis dalam sinetron.

“Dendengnya buat kamu saja, Nak, biar Ibu yang makan tahu,” kata Ibu Bintang sambil mengusap rambut Bintang dengan haru.

“Jangan, Bu, Ibu saja yang makan dendeng. Aku mau tahunya,” kata Bintang lagi.

Hati Ibu Bintang semakin terenyuh.

Ketika waktu berbuka puasa tiba, Bintang segera meraih tahu dan menyorongkan dendeng ke dekat Ibu. Ibu tersenyum dan menyantap dendengnya setengah potong. Ia menyisakan separuh lagi untuk sahur Bintang keesokan paginya.

Bintang tidak memperhatikan apa yang dilakukan Ibu. Tahu di hadapannya membuat ia begitu gembira. Ia menyentuh tekstur tahu dengan telapak tangannya yang mungil, sebelum akhirnya mulai membelah tahu itu. Asap membumbung dari perut tahu dan terhirup oleh Bintang.

“Alhamdulillah,” ungkap Bintang riang. Di sekolah, ia belajar mengucap syukur untuk setiap hal yang membuatnya senang. Maka, aroma dan kehangatan tahu yang membuatnya senang membuatnya merasa perlu berterima kasih pada Tuhan.

Ibu mengamati Bintang yang menyantap tahu dengan lahap. Di dalam hati ada rasa sedih tersisip. Apa yang akan diberikannya untuk buka puasa Bintang keesokan harinya? Akankah Bintang terus bahagia seperti sore itu?

“Kenapa, Bu?” tanya Bintang yang tiba-tiba sadar sedang diperhatikan.

“Nggak apa-apa. Maafkan Ibu, ya,” sahut Ibu.

“Kenapa sudah maaf-maafan, Bu? Lebarannya kan masih minggu depan,” tanggap Bintang.

Ibu tak tahu harus menangis atau tertawa.

Setelah berbuka puasa, Bintang bersiap-siap untuk shalat tarawih. Bintang selalu senang shalat tarawih. Ia senang punya alasan bermain-main di luar rumah setelah lewat maghrib. Ibu Bintang banyak menonton sinetron. Maka, di matanya, Bintang pastilah anak soleh berhati malaikat yang punya kesadaran bertarawih lebih besar daripada anak-anak seumurnya.

“Hati-hati, ya, Nak,” pesan Ibu sebelum Bintang berangkat.

Bintang mencium tangan Ibunya dengan santun, lalu berlari-lari keluar rumah.

Sebelum Bintang sampai di mesjid, Tuhan telah hadir di sisinya. Tidak akbar seperti dalam sinetron, tetapi akrab seperti sarung dan sandal yang dikenakan Bintang. Bintang tahu. Itu sebabnya ia merasa senang dan sekali lagi megucap syukur, “Alhamdulillah …”

Tetapi ada satu hal yang bintang tidak tahu. Jika Tuhan bisa menjelma apa saja, demikian juga malaikat. Bintang tak tahu bahwa pada buka puasa kali itu, ia memakan malaikat. Sore itu, malaikat juga tahu. Asapnya terbang meski tanpa sayap. Warnanya kuning meski tak cemerlang. Tahu tidak rupawan, kecuali menurut Bintang.

Sayup-sayup, di sela gemericik suara minyak di penggorengan, radio warung makan meneruskan suara Dee Lestari,

“Malaikat juga tahu …”*

… lalu siapa yang menjadi juaranya?

 

* dipinjam dari lirik lagu “Malaikat Juga Tahu” Dee Lestari

5 komentar:

  1. Nggak ada juaranya. Kan bukan lomba makan tahu. Hehehe.

    BalasHapus
  2. Hihihi, baru baca, Dea... so sweeeeet ^^

    BalasHapus
  3. saya juga ngutip kalimat yg ada disini..

    ijin yaa...

    hehehehe...

    Di sekolah, ia belajar mengucap syukur untuk setiap hal yang membuatnya senang. Maka, aroma dan kehangatan tahu yang membuatnya senang membuatnya merasa perlu berterima kasih pada Tuhan.

    BalasHapus
  4. Indraswari Agnes Mayda26 Juli 2012 07.35

    Kak Dea... suka sama Bintangnya... Semoga aku sll ingat bersyukur seperti Bintang.. =)

    BalasHapus