Jumat, 10 Oktober 2014

13

"YAAAAAAYYYY !!!!!" seru Ginan dan Dea.

Seisi Rumah Cemara tampak kaget. Mereka yang tadinya sedang punya kegiatan sendiri-sendiri langsung ngumpul ke deket komputer admin, pengen tau apa yang sedang terjadi di sana.

"Akhirnya bukunya selesai juga," umum Ginan pada segenap keluarga Rumah Cemara yang udah berdiri di sekitar kami minta penjelasan. Ngedenger apa yang Ginan bilang, temen-temen Rumah Cemara keliatan ikut berbahagia.

Hari itu persis tanggal 13 di bulan Maret. Memoar Ginan yang rencananya cuma 9 bab, mulur jadi 13 bab. Tapi Ginan bilang dia suka sama angka 13. "Aku lahir tanggal 13 Juli. Buat orang-orang, 13 itu angka sial, tapi buat aku enggak," ungkap Ginan. Awalnya buku ini mau dijudulin "Thirteen Lucky Bastard". Tapi karena berbagai pertimbangan, akhirnya jadi "Melampaui Mimpi". Cocok juga. Soalnya apa yang dialamin Ginan memang melampaui mimpi banget. 




Lahir sebagai anak laki-laki satu-satunya di keluarga Koesmayadi, bikin Ginan ngerasa terbeban secara mental. Ayah Ginan yang seorang dokter naro banyak harapan di bahu Ginan. Perjalanan Ginan penuh dengan jatuh dan bangun. Di satu sisi, Ginan kepengen banget ngebanggain sang ayah. Tapi di sisi lain, dia sering ngerasa nggak sanggup dan lebih banyak ngecewain. 

Love-hate relationship Ginan dengan sang ayah, jadi pangkal berbagai tingkah laku Ginan sejak kecil sampai remaja. Mulai dari rutin kencing di tembok belakang rumah, sampai jadi pecandu narkoba dan rajin menghuni penjara. Ada satu titik ketika Ginan ngerasa dia nggak akan pernah bisa "pulang", nggak akan pernah bisa ngebanggain sang ayah, nggak akan punya harapan apa-apa lagi di idupnya. 

Tapi terinfeksi HIV justru jadi titik balik buat Ginan. Sejak saat itu pelan-pelan Ginan ngebangun idupnya sendiri, memulihkan hubungannya dengan sang ayah, hingga akhirnya belajar ikhlas dan bijaksana nerima segala hal yang dihadiahkan hidup untuk Ginan.




Proses pengerjaan buku ini sendiri cukup panjang. Dua taun. Ada moment emosional ketika Ginan nggak bisa cerita apa-apa dan cuma bisa nangis, ada proses pengumpulan data yang nggak sebentar, ada wawancara dengan orang-orang di sekitar Ginan, ada proses ngedit bulak-balik bersama Bu editor Alit Palupi, dan tanpa Dea sadarin, dalam dua taun Dea bukan cuma jadi penulis, tapi dapet banyak sahabat baru di Rumah Cemara. Penulisan buku ini nggak sekedar "proyek" tapi juga penuh muatan personal yang bikin Dea sendiri belajar banyak tentang idup. Tentang stigma. Tentang syukur. Tentang rasa sakit. Dan tentang kebaikan semesta yang utuh ketika diliat dari dua sisi, yang gelap maupun yang terang.

Ngomong-ngomong soal semesta, pengerjaan buku ini cukup lucu "pengantar"-nya. Pada taun 2011, sebelum Dea kenal Ginan apalagi kepikiran bakal nulis buku tentang dia suatu saat kemudian, semesta nganter Dea ke sebuah acara di Common Room yang bikin Dea mutusin nulis tentang nazar Ginan berjalan kaki dari Bandung ke Jakarta.

Unexpectedly, artikel kecil ini akhirnya jadi bingkai di buku "Melampaui Mimpi". Kayak gimana? Coba dibaca di bukunya hihihi ...





Dan ngomong-ngomong soal 13 ... coba cek tanggal yang tertera di artikel pertama Dea tentang Ginan ;)

Temen-temen, kalau pengen tau lebih banyak, silakan mampir ke sini besok:





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar