Senin, 04 Juli 2016

When You Believe, Somehow You Will

Beberapa hari yang lalu Dea nonton "Prince of Egypt" lagi. Waktu SMA Dea nggak punya kesan tertentu sama film itu. Tapi pas nonton lagi, ada beberapa hal yang bikin perasaan Dea sedikit keganggu. Apa Musa harus banget ngelakuin itu? Apa nggak ada cara lain yang lebih win-win solution? Sesedih apa Musa ketika ngeliat kehancuran saudara angkatnya?

Dea coba ulang sedikit cerita filmnya supaya kita inget, ya...

gambar diambil dari sini



Pada suatu masa, semua bayi laki-laki dibunuh di Mesir. Miryam, kakak Musa, menghanyutkan bayi Musa di sungai Nil.
 

Ratu Mesir menemukan Musa dan mengasuhnya seperti anak sendiri. Musa tumbuh terdidik, terpelihara, tidak kekurangan suatu apa, dan sangat dekat dengan Ramses, kakak tirnya, putera mahkota kerajaan Mesir.
Pada suatu hari, demi membela seorang budak yang dipukuli, tak sengaja Musa membunuh seorang mandor. Musa panik. Ramses bermaksud melindungi Musa, tapi perasaan bersalah yang menghantui membuat Musa melarikan diri dari istana. 
Dalam pengembaraannya, Musa bertemu dengan Zipora, seorang gadis Midian. Musa menikahinya dan tinggal di tengah-tengah kaum Midian. Tiba-tiba Allah orang Israel memerintahkannya untuk membawa orang-orang Israel keluar dari tanah Mesir. Setelah melewati beberapa drama, akhirnya Musa menurut. Ia dan istrinya menghadap raja Mesir, Ramses, kakak angkatnya. 

Kedatangan Musa disambut hangat oleh Ramses. Tetapi ketika Musa menyampaikan maksud kedatangannya, Ramses menolak permintaan Musa. Ramses mencoba mengajak Musa bicara empat mata. Ia menanggalkan mahkotanya untuk mengobrol dari hati ke hati. Tetapi atas nama perintah Allah, Musa  tak bisa ditawar secubit pun. 

Konflik  pun terjadi.  Ramses yang juga menjadi marah, semakin bersikeras melarang bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Terjadilah perseteruan antara Musa dan tabib-tabib Ramses. Tulah demi tulah mendera bangsa Mesir. Terakhir, semua anak sulung di Mesir -- termasuk putera kesayangan Ramses -- mati secara massal. 

Ramses dirundung duka. Setelah peristiwa itu, barulah Ramses membiarkan bangsa Israel bedol desa meninggalkan Mesir, meski dengan kekecewaan dan ketidakihlasan.

***

Jujur, Dea ngerasa ada banyak jalan lain yang lebih baik untuk nyelesein masalah itu. Ya iyalah Ramses nggak ngijinin Musa ngebawa bangsa Israel ujuk-ujuk berbondong-bondong keluar dari Mesir tanpa alesan yang jelas. Tapi dia kan juga nggak tertutup untuk kompromi. Jadi mungkin banget mereka nyusun keputusan yang nggak ngerugiin siapa-siapa.


Misalnya gini. Misalnya aja, ya, ini. Orang-orang Israel boleh tetep kerja di Mesir, tapi posisinya jangan budak-budak amat. Kasih mereka perlakuan yang lebih layak. Pada usia yang udah lanjut, mereka boleh pensiun. Toh nggak efektif juga kalo dipaksa kerja. Anak-anak dikasih pendidikan yang lebih layak dipersiapkan untuk kelak berangkat ke tanah perjanjian.

Sebagai gantinya, Musa tetep ngasih support buat Ramses dan Mesir, bukan malah jadi oposisinya. Sementara itu kan Musa juga bisa pelan-pelan ngasih sudut pandang yang lain ke Ramses tentang bangsa Israel. Meskipun darah orang Israel mengalir di tubuh Musa, Musa tumbuh bersama Ramses. Dia punya ikatan yang kuat sebagai saudara sama raja Mesir itu. Kalau generasi bangsa Israel berikutnya udah siap ngebangun tanah perjanjian, Mesir dan Israel bisa jadi negara dengan hubungan bilateral yang kuat. Semuanya bakal lebih smooth. Nggak usah perang, nggak ada korban, nggak ada dendam, nggak usah su'udzon-su'udzon-an, semua bahagia, tetep saling menyayangi, dan bukannya nggak mungkin dicoba sih sebenernya

Gangguan perasaan lainnya. Di malem ketika semua anak sulung di Mesir mau dibunuh, Tuhan nyuruh orang Israel nandain pintu-pintu rumah dengan darah. Di rumah-rumah yang ada tanda darahnya, maut nggak akan dateng.

Kalau Dea jadi Musa, mungkin Dea akan  pergi ke istana dan diem-diem bikin tanda darah di situ biar anak Ramses nggak ikut meninggal. Dea mungkin aja salah secara aturan. Tapi Dea nggak akan tega ngeliat saudara Dea berduka karena anak kesayangannya dibunuh. Apalagi Dea tau gimana cara mencegahnya. Dea tau Tuhan mungkin bakal marah sama Dea dan Dea mungkin bakal dihukum karena nggak patuh. Tapi dalam situasi kayak begitu, Dea tau persis apa yang bakal Dea pilih.

Dea jadi bertanya-tanya sendiri. Apa iya Tuhan dan perintah-Nya seringkali bertentangan sama hati kecil kita? Belakangan ini ada banyak banget peristiwa yang indikasinya ke arah sana. Bukan ngacu ke satu agama aja, ya, ini, tapi ke semua keyakinan yang sifatnya fanatik.

Atas nama perintah Tuhan, orang yang satu ngebunuh yang lain. Ngehakimin yang lain. Nentang keluarganya. Ngerasa paling bener dan nggak mau toleransi. Kadang orang juga jadi maksa diri untuk ngebunuh hati nuraninya sendiri, seperti Musa yang sebenernya nangis sedih pas ngeliat Ramses keilangan anaknya.

Dea jadi ngeraba lagi Tuhan yang selama ini Dea kenal dan imanin. Pernah nggak Dia ngasih perintah yang bikin Dea menderita karena harus nentang hati kecil? Bikin Dea kadang menderita karena harus susah payah ngelawan ego, sih, iya banget. Sering malah. Tapi Dia selalu bersinar atas hal-hal yang Dea percaya sebagai kebaikan. Tuhan ngasih tau mana yang harus jadi arah, nunjukin jalannya, meskipun Dea belum mampu sampe ke sana. Dea jadi sadar apa yang bikin Dea selalu percaya sama Tuhan di hati kecil ini.

Tau-tau Dea jadi kepikir. Kalau pada suatu hari Tuhan jadi Tuhan yang merintahin Dea untuk ngebunuh hati kecil, apa Dea masih mau percaya sama Dia?

gambar Moses-Ramse kecil diambil dari sini

Turut berduka untuk peristiwa pemboman di Arab Saudi hari ini. Doa dan kasih Dea yang paling tulus selalu menyerta...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar