Selasa, 28 September 2010

Day #23: Memeluk Agama

Di sela rusuh-rusuh akibat FPI dan Queer Movie Festival kemarin, tahu-tahu sebuah pertanyaan melintas di kepala saya, “Waktu kita memeluk agama, apakah agama membalas pelukan kita?” Agama adalah tiang yang terpancang kuat pada dasar yang teguh. Ia adalah prinsip yang kita yakini. Pegangan yang membuat kita tak mudah terbawa arus. Tetapi agama adalah sebuah doktrin yang dingin dan mengawasi kita dalam aturan-aturan; sesuai dengan asal katanya: “a” dan “gama” yang berarti “tidak kacau”. Jika pada prakteknya agama kadang justru menimbulkan kekacauan, saya rasa karena setiap agama mempunyai ukuran “tidak kacau”-nya masing-masing. Ketika mereka berbentur, “crash”-lah mereka seperti program-program komputer tertentu.

Sebagai seseorang dengan kebutuhan afeksi yang cukup tinggi dan merasa memeluk agama, saya jadi kurang bahagia. Sungguh tidak asyik hidup dengan sesuatu yang kita peluk namun tak pernah kembali memeluk kita. Di tengah permenungan dalam perjalanan berangkot serta huru-hara yang terus berdesing, saya merasa dicolek oleh sesuatu.

Neng, Neng, cemberut aje. Mikirin agama, ya?

*melihat keluar jendela dan tidak menjawab*

Agama entu pan rangka, Neng. Kalo meluk balik serem juga, kali ...

Iya juga, sih ....

Kalo Eneng mau dipeluk, jangan sama agama,ya sama otot, saraf, dan dagingnye agama …

Hah? Yang mana?

Suara gaib itu lalu hilang disesap polusi jalan raya. Ia bersatu dengan semesta dan luruh dalam keringat manusia. Ia hadir dalam tatapan penuh harap supir angkot Caringin-Sedang Serang, dalam nenek-nenek yang mengucapkan ‘Bismillah’ dengan suara bergetar saat memasuki angkot, dalam lagu gereja yang disenandungkan setengah suara oleh seorang penumpang, dalam mata saya sendiri ketika melalui spion angkot saya tahu ia diam-diam protes karena lelah terlalu lama berhadapan dengan monitor laptop. Lalu saya merasa dipeluk.

Pelukan adalah bahasa yang personal dan universal. Ia tidak mengawasi kita dalam aturan tetapi semoga mengatur kita dalam keawasan. Syaraf membuatnya bergerak melintasi kerangka. Melintasi agama.

Barangkali FPI adalah sebuah agama sendiri. Sebagai rangka ia sangat kuat. Semoga ia makan cukup banyak agar otot, syaraf, dan daging dapat membalas pelukan para pemeluknya …


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar