Kamis, 30 September 2010

Day #25: Layang-layang Bermata Bintang

Layang-layang bermata bintang berenang di langit lapang. Ketika sedang menyelam, ia tampak seperti jari yang sedang menyulam. Hup … Si Layang-layang bergulung lepas. Tak sengaja awan yang mengambang terminum olehnya.

“Uhuk-uhuk …”

“Kenapa kamu?” tanya seekor burung layang-layang.

“Awannya tertelan. Untung langitnya tidak. Kalau iya, bisa-bisa aku tenggelam.”

“Kamu tidak akan tenggelam di langit, Layang-layang.”

“Bisalah. Aku kan sedang berenang ...”

“Kamu tidak sedang berenang. Kamu sedang terbang …”

Layang-layang bermata bintang meliuk ringan. Meski semua burung bilang ia sedang terbang, ia tetap merasa sedang berenang. “Terbang, terbang, terbang, aku sedang terbang,” katanya mencoba meyakinkan diri sendiri.

Lalu selama beberapa hari layang-layang bermata bintang kehilangan ketangkasannya. Setiap mulai merasa nyaman dengan geraknya, layang-layang bermata bintang merasa sedang berenang. “Terbang, terbang, terbang, aku sedang terbang!” katanya berkali-kali. Akibatnya ia lupa bahwa ia menemukan makna dalam liuknya; apapun namanya, berenang ataupun terbang.

Pada suatu hari, layang-layang berbentuk ikan menghampirinya, “Kenapa gerakmu susah sekali? Kamu tidak bisa berenang, ya? Sini aku ajari …” “Kita tidak sedang berenang, layang-layang ikan, kita sedang terbang,” sahut layang-layang bermata bintang. “Tidak ada bedanya, layang-layang bintang. Pada dasarnya, udara adalah air dalam wujud yang berbeda …,” kata layang-layang berbentuk ikan. Ia kemudian berenang di laut angkasa. Menggambar gelombang dengan liuknya. Layang-layang bermata bintang terpesona. Ketangkasannya pun pulang sendiri. Layang-layang bermata bintang menyelam sampai ke dasar samudera. Berenang di laut angkasa.

“Lihaaat … lihaaat … aku pandai berenang,” kata layang-layang bermata bintang pada para burung layang-layang. “Kami sudah bilang berkali-kali. Kamu terbang. Bukan berenang,” kata para burung layang-layang. Kali itu layang-layang bermata bintang tak lagi peduli. Ia membiarkan setiap persepsi berenang ataupun terbang secara mandiri. Menyusun makna menurut kebutuhannya.

Bintang barangkali bertabur di langit. Tetapi bintang laut beserak di lautan …


Little Star karya Eddi Prabandono

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar