Jumat, 01 Oktober 2010

Day #26: Sudah Gaharuda Cendana Pula*

“Selamat tanggal satu Oktober, Pancasila, ini hari kesaktianmu,” sapa foto presiden yang masih Soeharto di dinding kelas. Garuda Pancasila menggeliat. Leher dan sayapnya pegal-pegal. Tuntutan profesi membuatnya harus menengok ke kanan dan merentang sepanjang tahun. “Mau kau gunakan bagaimana kesaktianmu kali ini? Berubah jadi Gatotkaca? Superman? Atau … Barry Prima?” tanya foto wakil presiden yang masih Tri Sutrisno. Garuda Pancasila menoleh ke kiri, “Tidak satupun,” sahutnya. Ia lalu terbang-terbang melemaskan otot, mengelilingi ruang kelas, dan bertengger di atas globe, “Lihat, Pak, aku berdiri di atas dunia …,” ujarnya ceria.

Setiap tanggal satu Oktober, Pancasila menjadi sakti. Ia bisa berubah menjadi apapun yang ia mau. Selama ia berubah wujud, ada boneka garuda khusus yang menggantikannya membentang di dinding-dinding. Tahun lalu garuda menjadi petir. Tahun sebelumnya lagi menjadi traktor. Entah tahun ini ia ingin berubah menjadi apa.

“Garuda, kataken tahun ini kamu mau jadi apa,” kata foto presiden dengan penasaran. “Lihat saja nanti. Aku akan berubah jam tujuh pagi,” sahut garuda. Ia lalu terbang meninggalkan globe dan pindah ke atas lemari kelas, “Lihat, Pak, sayapku bisa menyentuh langit. Langit-langit.”

Jarum jam bergeser tekun dan perlahan. Akhirnya pukul tujuh tiba. Bel sekolah berbunyi dan BUFFFF … Pancasila yang pada tanggal itu menjadi sakti berubah wujud.

Murid-murid SD berjajar di lapangan. Berupacara bendera dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila. Pagi itu matahari bersinar terik, anak-anak bertahan melawan panas dan naluri bermain mereka yang tinggi.

Tiba-tiba seekor burung kecil bercericau. Warnanya merah, putih, kuning, hijau, dan matanya cerlang seperti bintang. Ia terbang di area lapangan, mampir di pagar, berhenti di paving block, lalu mematuki sisa Fuji Mie yang bercecer di sana. Anak-anak yang perhatiannya mudah teralih menoleh, lupa pada amanat pembina upacara yang sedang disampaikan.

“Lihat, burung itu lucu sekali, ya …”

“Iya, moga-moga pas kita istirahat dia masih ada, biar bisa kita ajak main …”

“Anak-anak!” suara pembina upacara tegas menggelegar. Anak-anak mengembalikan pandangannya ke depan. “Kita harus menjaga sikap kita dalam hormat. Bertahun-tahun yang lalu, tepat pada tanggal ini, Pancasila berhasil menunjukkan kesaktiannya. Negara kita gagal dikuasai oleh kekejaman PKI,” kata sang pembina upacara. Anak-anak yang telah mendengar kisah ini berkali-kali memperhatikan dengan setengah hati.

Hari itu burung garuda menggunakan kesaktiannya untuk menjadi burung kecil biasa. Sepanjang tahun ia berhadapan dengan anak-anak SD dan jatuh cinta pada kemerdekaan mereka. Khusus di hari kesaktiannya, ia ingin anak-anak memandangnya sebagai teman bermain, bukan sekedar lambang negara yang tergantung dingin di dinding.

Lagu berbahasa Sunda mengenai burung garuda, Manuk Dadali , dimainkan dengan angklung oleh anak-anak kelas 4 dan 5 SD. Selanjutnya, dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara, mars Garuda Pancasila berkumandang. Diam-diam si burung jadi punya ide; “Bagaimana kalau hari ini kugunakan kesaktianku untuk mengajak anak-anak bermain ke Mars?"

*plesetan sebuah peribahasa. Ayo googling untuk cari artinya … =D


Salvador Dadali

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar