Sabtu, 02 Oktober 2010

Day #27: Kelipatan Tiga

Kemarin pagi, dalam tempo tiga jam, ada tiga kematian yang nyapa Dea. Waktu Dea online, situs-situs berita di twitter ngabarin kecelakaan kereta api yang cukup serius dan minta cukup banyak korban. Belum selesai nelusurin berita, Oom Dea nelpon, ngasih tau kalau adik sepupu Dea di Jakarta baru aja meninggal. Beberapa saat kemudian koneksi internet di rumah mulai down dan … mati.

Dalam tempo seratus dua puluh menit berikutnya, ada peristiwa-peristiwa hampir mati yang nyapa Dea. Dea ikut tante ke pasar. Di jalan Dea ngeliat tuhan kresek putih yang terbang lelah diliput debu. Di pasar, ada ayam-ayam yang desek-desekkan di dalem kandang, berkokok panik seolah tau akan dijagal. Di jalan, ada orang-orang jualan anak anjing. Gonggongannya nggak wajar dan dari mata mereka, keliatan banget kalau mereka udah nggak sehat.

Begitu nyampe di rumah lagi, Dea langsung nyatet rangkaian cerita itu di buku harian. Buku harian Dea abis setelah nemenin Dea selama tiga bulan. Pas Dea cek, ternyata Dea pertama kali nulis di buku itu tanggal tiga Juli. Dalam tempo enam jam, “kelipatan tiga” nyertain Dea. Tapi nggak tau ada apa dengan hari itu, semuanya berhubungan dengan kematian dan tutup buku.

Jam dua belas siang Dea melipat si kelipatan tiga; nyimpen mereka di kantong kemeja, deket sama jantung. Detak yang bersentuh sama si kelipatan tiga ngingetin Dea betapa tipisnya sekat antara keidupan dan kematian.

Temen-temen, seluruh peristiwa itu terjadi di tanggal tiga. Dan hari ini Dea memasuki hari hari ke-27 dalam program 30 hari menulis. Dua puluh tujuh adalah jumlah cerita di buku ke tiga Dea. Dan dua puluh tujuh bisa dibagi tiga.

Selamat hari ini, Teman-teman, semoga hidupmu dilimpahi cahaya …


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar