Tampilkan postingan dengan label 30harimenulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 30harimenulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Oktober 2010

Day #30: Doa Petani Tinta Kelinci


Tuhan yang baik,

Semoga bibit tinta kelinci yang udah Dea tanem selama tiga puluh hari ini tumbuh jadi kata-kata yang memberkati. Jauhin dia dari hama wereng, lamtoro gung, dan cuaca jelek yang ngerusak. Jaga juga sikap hati Dea sebagai petani supaya selalu ngdengerin hati kecil ketika bertani; soalnya Dea tau setiap tumbuhan berangkat dari bibit yang kecil.

Amin …



Di ujung program 30 hari menulis ini, nggak ada posting yang spektakuler. Maaf, ya, Teman-teman … soalnya ujan turun deras dan Dea Si Petani Tinta Kelinci perlu sejenak menepi … =)

Tapi dari balik jendela Dea bisa ngeliat si ujan nyentuh ladang 30 hari menulis dan tunas-tunas tulisan yang tumbuh di ladangnya. Rasanya senang sekali. Waktu kena air, mereka keliatan lebih ijo karena pucetnya luruh …

Selama ikut 30 hari menulis ini Dea makin sadar kalau kita ini tinggal di tanah subur. Apapun bisa kita tanem dan tumbuh jadi kisah … ;)

Temen-temen, selamat ngelanjutin program ini buat yang masih berjalan, selamat bergabung buat yang baru mulai, dan selamat berhasil buat yang udah kelar sampai hari ke-30.

Ini hari Kamis, hari keseimbangan yang terletak di antara Senin-Selasa-Rabu dan Jumat-Sabtu-Minggu. Selamat hari ini …

Akhir kata, Salamatahari, salamatahati, semogaselaluhangat dan cerah …

Sundea


Senin, 04 Oktober 2010

Day #29: Dedo (sekuel)

"Kulihat awan, seputih kanvas
arak-berarak di langit luas..."

Itu bukan salah ketik. Iya. Seputih kanvas, bukan kapas. Pada suatu hari, ketika sedang menggambar di kolong meja, Dedo mengintip awan-awan dari balik jendela. Sejak saat itu dia menggantungkan cita-citanya setinggi langit dan meninggalkan kolong meja, berjanji untuk menggambar di kanvas yang arak-berarak di langit luas itu.

Tubuhnya menjulang tinggi, berorientasi ke angkasa. Tetapi 185 cm sudah terlalu tinggi. Daripada repot-repot membuatnya lebih tinggi berkilo-kilo meter lagi, Tuhan memutuskan untuk memberinya sayap saja.

"Andai kudapat ke sana terbang
akan kuraih kubawa pulang ..."

... tetapi bukan Dedo yang membawa pulang kanvas, sebaliknya, kanvaslah yang membawanya pulang. "Ini rumahmu. Melukislah sepuasnya," kata Tuhan. Sejak beberapa hari yang lalu, Dedo melukis di atas kanvas awan-awan. Cat airnya menetes-netes sampai ke bumi, memberi warna di pemakamannya sendiri. Ada nyanyian, ada air mata, ada anak-anak penyewa payung yang tak lagi memandang pemakaman sebagai tempat yang duka, ada banjir bandang yang merendam kaki, ada telapak-telapak yang kembali belajar mengindera lumpur, ada apa saja. Dalam bahasa Batak "Radedo" berarti "tersedialah". Maka tersedialah cat air seribu warna untuknya ...

Ketika akhirnya Dedo lelah dan lelap dalam dekap-Nya, Ia memberi aksen pada lukisan Dedo. Warna-warni klasik yang tak pernah kehilangan pesona pun merona,

"Pelangi, pelangi alangkah indahmu ....
pelukismu agung, siapa gerangan ...?"



Minggu, 03 Oktober 2010

Day #28: Dedo

In memoriam

Radedo Panjaitan

24 Maret 1993 – 2 Oktober 2010

Dedo adik sepupu Dea yang senyumnya lebar sampai ke kuping. Waktu kecil dia lamaaa … banget nggak bisa ngomong. Tapi dia paling ramah tamah dan murah senyum. Pernah pada suatu kali keluarga di rumahnya panik karena dia ilang. Ternyata dia main keluar, bikin tukang sayur jatuh hati, diajak keliling-keililing naik gerobak sayur, baru dipulangin lagi ke rumah.

Waktu kecil dia sedikit eksentrik. Mungkin karena nggak bisa ngomong dia suka sekali ngegambar. Yang ajaib nggambarnya harus di kolong meja. Waktu kemudian akhirnya bisa ngomong, dia mulai jarang ngegambar. Tapi ramah tamahnya tetep. Dia tumbuh jadi anak yang disayang semua orang. Di antara kedua orangtuanya, dia selalu jadi pendamai dan penolong yang siaga. Untuk kedua adik perempuannya, dia pelindung yang bisa diandelin. Untuk kakak laki-lakinya, dia partner yang menguatkan. Dan untuk temen-temennya … dia pasti berarti banyak. Ada sekitar tiga ratus temen yang ngelayat dia, bahkan ada yang nggak ragu naik motor nembus ujan deras, ikut ke kuburan meskipun di sana banjir bandang.

Dedo adik sepupu Dea yang sebetulnya sekitar sepuluh taun ini loose contact sama Dea. Rentang waktu mencuri banyak hal. Dea nggak pernah liat dia bertumbuh sampe tau-tau dia udah jadi ABG 17 taun dengan tinggi 185 cm aja. Dea nggak pernah denger suaranya setelah pecah. Dea nggak pernah tau gimana dia ngelaluin adolescence moments in his life karena terakhir ketemu, sebelum dia meninggal, Dea masih ngeladenin dia main polisi-polisian. Tapi ada ikatan yang nggak bisa dicuri rentang waktu. Ketika Dea nyentuh jenazahnya, ada rasa sayang yang Dea kenal deket sekali. Ada kebaikan dan ketulusan khas Dedo yang Dea kenal, yang dia bawa dari dia masih kecil sekali sampai akhirnya meninggal karena komplikasi paru-paru, ginjal, maag, dan lever.

Siang itu ada berhelai-helai air ujan jatuh ke tanah seperti doa. Siang itu juga ada berhelai-helai benang di ulos Dea yang ditenun dengan doa …


Sabtu, 02 Oktober 2010

Day #27: Kelipatan Tiga

Kemarin pagi, dalam tempo tiga jam, ada tiga kematian yang nyapa Dea. Waktu Dea online, situs-situs berita di twitter ngabarin kecelakaan kereta api yang cukup serius dan minta cukup banyak korban. Belum selesai nelusurin berita, Oom Dea nelpon, ngasih tau kalau adik sepupu Dea di Jakarta baru aja meninggal. Beberapa saat kemudian koneksi internet di rumah mulai down dan … mati.

Dalam tempo seratus dua puluh menit berikutnya, ada peristiwa-peristiwa hampir mati yang nyapa Dea. Dea ikut tante ke pasar. Di jalan Dea ngeliat tuhan kresek putih yang terbang lelah diliput debu. Di pasar, ada ayam-ayam yang desek-desekkan di dalem kandang, berkokok panik seolah tau akan dijagal. Di jalan, ada orang-orang jualan anak anjing. Gonggongannya nggak wajar dan dari mata mereka, keliatan banget kalau mereka udah nggak sehat.

Begitu nyampe di rumah lagi, Dea langsung nyatet rangkaian cerita itu di buku harian. Buku harian Dea abis setelah nemenin Dea selama tiga bulan. Pas Dea cek, ternyata Dea pertama kali nulis di buku itu tanggal tiga Juli. Dalam tempo enam jam, “kelipatan tiga” nyertain Dea. Tapi nggak tau ada apa dengan hari itu, semuanya berhubungan dengan kematian dan tutup buku.

Jam dua belas siang Dea melipat si kelipatan tiga; nyimpen mereka di kantong kemeja, deket sama jantung. Detak yang bersentuh sama si kelipatan tiga ngingetin Dea betapa tipisnya sekat antara keidupan dan kematian.

Temen-temen, seluruh peristiwa itu terjadi di tanggal tiga. Dan hari ini Dea memasuki hari hari ke-27 dalam program 30 hari menulis. Dua puluh tujuh adalah jumlah cerita di buku ke tiga Dea. Dan dua puluh tujuh bisa dibagi tiga.

Selamat hari ini, Teman-teman, semoga hidupmu dilimpahi cahaya …


Jumat, 01 Oktober 2010

Day #26: Sudah Gaharuda Cendana Pula*

“Selamat tanggal satu Oktober, Pancasila, ini hari kesaktianmu,” sapa foto presiden yang masih Soeharto di dinding kelas. Garuda Pancasila menggeliat. Leher dan sayapnya pegal-pegal. Tuntutan profesi membuatnya harus menengok ke kanan dan merentang sepanjang tahun. “Mau kau gunakan bagaimana kesaktianmu kali ini? Berubah jadi Gatotkaca? Superman? Atau … Barry Prima?” tanya foto wakil presiden yang masih Tri Sutrisno. Garuda Pancasila menoleh ke kiri, “Tidak satupun,” sahutnya. Ia lalu terbang-terbang melemaskan otot, mengelilingi ruang kelas, dan bertengger di atas globe, “Lihat, Pak, aku berdiri di atas dunia …,” ujarnya ceria.

Setiap tanggal satu Oktober, Pancasila menjadi sakti. Ia bisa berubah menjadi apapun yang ia mau. Selama ia berubah wujud, ada boneka garuda khusus yang menggantikannya membentang di dinding-dinding. Tahun lalu garuda menjadi petir. Tahun sebelumnya lagi menjadi traktor. Entah tahun ini ia ingin berubah menjadi apa.

“Garuda, kataken tahun ini kamu mau jadi apa,” kata foto presiden dengan penasaran. “Lihat saja nanti. Aku akan berubah jam tujuh pagi,” sahut garuda. Ia lalu terbang meninggalkan globe dan pindah ke atas lemari kelas, “Lihat, Pak, sayapku bisa menyentuh langit. Langit-langit.”

Jarum jam bergeser tekun dan perlahan. Akhirnya pukul tujuh tiba. Bel sekolah berbunyi dan BUFFFF … Pancasila yang pada tanggal itu menjadi sakti berubah wujud.

Murid-murid SD berjajar di lapangan. Berupacara bendera dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila. Pagi itu matahari bersinar terik, anak-anak bertahan melawan panas dan naluri bermain mereka yang tinggi.

Tiba-tiba seekor burung kecil bercericau. Warnanya merah, putih, kuning, hijau, dan matanya cerlang seperti bintang. Ia terbang di area lapangan, mampir di pagar, berhenti di paving block, lalu mematuki sisa Fuji Mie yang bercecer di sana. Anak-anak yang perhatiannya mudah teralih menoleh, lupa pada amanat pembina upacara yang sedang disampaikan.

“Lihat, burung itu lucu sekali, ya …”

“Iya, moga-moga pas kita istirahat dia masih ada, biar bisa kita ajak main …”

“Anak-anak!” suara pembina upacara tegas menggelegar. Anak-anak mengembalikan pandangannya ke depan. “Kita harus menjaga sikap kita dalam hormat. Bertahun-tahun yang lalu, tepat pada tanggal ini, Pancasila berhasil menunjukkan kesaktiannya. Negara kita gagal dikuasai oleh kekejaman PKI,” kata sang pembina upacara. Anak-anak yang telah mendengar kisah ini berkali-kali memperhatikan dengan setengah hati.

Hari itu burung garuda menggunakan kesaktiannya untuk menjadi burung kecil biasa. Sepanjang tahun ia berhadapan dengan anak-anak SD dan jatuh cinta pada kemerdekaan mereka. Khusus di hari kesaktiannya, ia ingin anak-anak memandangnya sebagai teman bermain, bukan sekedar lambang negara yang tergantung dingin di dinding.

Lagu berbahasa Sunda mengenai burung garuda, Manuk Dadali , dimainkan dengan angklung oleh anak-anak kelas 4 dan 5 SD. Selanjutnya, dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara, mars Garuda Pancasila berkumandang. Diam-diam si burung jadi punya ide; “Bagaimana kalau hari ini kugunakan kesaktianku untuk mengajak anak-anak bermain ke Mars?"

*plesetan sebuah peribahasa. Ayo googling untuk cari artinya … =D


Salvador Dadali

Kamis, 30 September 2010

Day #25: Layang-layang Bermata Bintang

Layang-layang bermata bintang berenang di langit lapang. Ketika sedang menyelam, ia tampak seperti jari yang sedang menyulam. Hup … Si Layang-layang bergulung lepas. Tak sengaja awan yang mengambang terminum olehnya.

“Uhuk-uhuk …”

“Kenapa kamu?” tanya seekor burung layang-layang.

“Awannya tertelan. Untung langitnya tidak. Kalau iya, bisa-bisa aku tenggelam.”

“Kamu tidak akan tenggelam di langit, Layang-layang.”

“Bisalah. Aku kan sedang berenang ...”

“Kamu tidak sedang berenang. Kamu sedang terbang …”

Layang-layang bermata bintang meliuk ringan. Meski semua burung bilang ia sedang terbang, ia tetap merasa sedang berenang. “Terbang, terbang, terbang, aku sedang terbang,” katanya mencoba meyakinkan diri sendiri.

Lalu selama beberapa hari layang-layang bermata bintang kehilangan ketangkasannya. Setiap mulai merasa nyaman dengan geraknya, layang-layang bermata bintang merasa sedang berenang. “Terbang, terbang, terbang, aku sedang terbang!” katanya berkali-kali. Akibatnya ia lupa bahwa ia menemukan makna dalam liuknya; apapun namanya, berenang ataupun terbang.

Pada suatu hari, layang-layang berbentuk ikan menghampirinya, “Kenapa gerakmu susah sekali? Kamu tidak bisa berenang, ya? Sini aku ajari …” “Kita tidak sedang berenang, layang-layang ikan, kita sedang terbang,” sahut layang-layang bermata bintang. “Tidak ada bedanya, layang-layang bintang. Pada dasarnya, udara adalah air dalam wujud yang berbeda …,” kata layang-layang berbentuk ikan. Ia kemudian berenang di laut angkasa. Menggambar gelombang dengan liuknya. Layang-layang bermata bintang terpesona. Ketangkasannya pun pulang sendiri. Layang-layang bermata bintang menyelam sampai ke dasar samudera. Berenang di laut angkasa.

“Lihaaat … lihaaat … aku pandai berenang,” kata layang-layang bermata bintang pada para burung layang-layang. “Kami sudah bilang berkali-kali. Kamu terbang. Bukan berenang,” kata para burung layang-layang. Kali itu layang-layang bermata bintang tak lagi peduli. Ia membiarkan setiap persepsi berenang ataupun terbang secara mandiri. Menyusun makna menurut kebutuhannya.

Bintang barangkali bertabur di langit. Tetapi bintang laut beserak di lautan …


Little Star karya Eddi Prabandono

Rabu, 29 September 2010

Day #24: Di Tengah-tengah Pasar

T: Di tengah-tengah pasar ada apanya?

J: Ada “s” –nya.

… dan “s” di tengah pasar mendesis seperti ular. Di antara dua huruf yang mengapit, ia aman bersembunyi dalam permainan; mempengaruhi “p” dan “a”, mengendalikan “a” dan “r”.

Tetapi “s” di tengah pasar adalah desis ular yang juga menjaga keseimbangan. Di antara dua huruf yang mengapit, ia berdiri sebagai titik setimbang. “P” dan “a” serta “a” dan “r” tak kocar-kacir ke mana-mana. Terjaga dalam sebuah makna.

Minggu ini www.salamatahari.com hadir dengan posting-posting seputar pasar. Ada garage sale “Never Say Old” yang memasarkan barang-barang lama, ada oleh-oleh foto dari Pasar Pamoyanan Bandung, ada obrolan dengan Permata Yudha perintis brand clothing Johnny Zebra yang membentuk pasarnya sendiri, dan ada kisah kecil tentang Pasar Balubur yang telah berpindah lokasi.

Teman-teman, selama bertahun-tahun hari ini (30 September), dikenang sebagai tanggal pembantaian keji G30SPKI. Namun berbagai peristiwa membuat sejarah kelam tersebut kembali digali dan dipertanyakan. Lalu bagaimanakah kita mengenang hari ini?

T:Di tengah-tengah G30SPKI ada apanya?

J: Ada “s”-nya

Selamat hari keseimbangan, Teman-teman …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea


Kunjungi www.salamatahari.com. Ada 5 posting seputar pasar di edisi ini

Selasa, 28 September 2010

Day #23: Memeluk Agama

Di sela rusuh-rusuh akibat FPI dan Queer Movie Festival kemarin, tahu-tahu sebuah pertanyaan melintas di kepala saya, “Waktu kita memeluk agama, apakah agama membalas pelukan kita?” Agama adalah tiang yang terpancang kuat pada dasar yang teguh. Ia adalah prinsip yang kita yakini. Pegangan yang membuat kita tak mudah terbawa arus. Tetapi agama adalah sebuah doktrin yang dingin dan mengawasi kita dalam aturan-aturan; sesuai dengan asal katanya: “a” dan “gama” yang berarti “tidak kacau”. Jika pada prakteknya agama kadang justru menimbulkan kekacauan, saya rasa karena setiap agama mempunyai ukuran “tidak kacau”-nya masing-masing. Ketika mereka berbentur, “crash”-lah mereka seperti program-program komputer tertentu.

Sebagai seseorang dengan kebutuhan afeksi yang cukup tinggi dan merasa memeluk agama, saya jadi kurang bahagia. Sungguh tidak asyik hidup dengan sesuatu yang kita peluk namun tak pernah kembali memeluk kita. Di tengah permenungan dalam perjalanan berangkot serta huru-hara yang terus berdesing, saya merasa dicolek oleh sesuatu.

Neng, Neng, cemberut aje. Mikirin agama, ya?

*melihat keluar jendela dan tidak menjawab*

Agama entu pan rangka, Neng. Kalo meluk balik serem juga, kali ...

Iya juga, sih ....

Kalo Eneng mau dipeluk, jangan sama agama,ya sama otot, saraf, dan dagingnye agama …

Hah? Yang mana?

Suara gaib itu lalu hilang disesap polusi jalan raya. Ia bersatu dengan semesta dan luruh dalam keringat manusia. Ia hadir dalam tatapan penuh harap supir angkot Caringin-Sedang Serang, dalam nenek-nenek yang mengucapkan ‘Bismillah’ dengan suara bergetar saat memasuki angkot, dalam lagu gereja yang disenandungkan setengah suara oleh seorang penumpang, dalam mata saya sendiri ketika melalui spion angkot saya tahu ia diam-diam protes karena lelah terlalu lama berhadapan dengan monitor laptop. Lalu saya merasa dipeluk.

Pelukan adalah bahasa yang personal dan universal. Ia tidak mengawasi kita dalam aturan tetapi semoga mengatur kita dalam keawasan. Syaraf membuatnya bergerak melintasi kerangka. Melintasi agama.

Barangkali FPI adalah sebuah agama sendiri. Sebagai rangka ia sangat kuat. Semoga ia makan cukup banyak agar otot, syaraf, dan daging dapat membalas pelukan para pemeluknya …


Senin, 27 September 2010

Day #22: Ini Ibu Budi

Akibat kalimat pertama yang dikenalnya dalam pelajaran Bahasa Indonesia, Kikan anak saya jadi punya lagu sendiri:

“Ini Ibu Budi, Budi ibu saya.

Kalau tidak Budi, bukan Ibu saya …”

“Kikan, lagunya bukan begitu, tapi begini, ‘Topi saya bundar, bundar topi saya …’”“Tapi Kikan nggak punya topi bundar, Ma,” potong Kikan cepat. “Ibu Kikan namanya juga bukan Ibu Budi,” tanggap saya sambil menahan senyum. “Tapi lagunya kan memang begitu, ‘Ini Ibu Budi, Budi ibu sayaaa …’” Gadis kecil saya lalu berlari-lari ke luar rumah. Suaranya yang cempreng membelah udara. Saya hanya bisa menahan senyum dan membiarkan dia menyerukan lagunya sesuka hati.

Tapi kemudian lagu itu jadi melekat di kepala saya. Kikan menyanyikannya berpuluh-puluh kali setiap hari. Lama-lama tanpa sengaja saya pun jadi sering bersenandung, “Ini Ibu Budi, Budi ibu saya …!” Aduh! Lagu itu itu mengejar-ngejar saya ke mapun. Terngiang-ngiang di tengah segala kegiatan saya. Ada apa dengan Budi? Atau jangan-jangan Budi memang ibu saya? Atau ibunya Kikan ? Saya, dong … lho?

Lalu pada suatu siang, sambil menunggu Kikan pulang sekolah, saya mencoba mengajak lagu ini berdialog:

Saya: Budi, apakah kamu memang ibu saya?

Lagu (dengan nada Topi Saya Bundar):

“Ingat-ingat terus masa sekolahmu.

Kalau tidak ingat, ingat-ingat terus …”

Saya pun mundur puluhan tahun. Samar saya teringat pada penggaris kayu yang memukul jari berkuku jorok. Pelajaran PMP dan segala butir mutiara Pancasilanya. Upacara bendera yang membuat saya kadang nyaris pingsan. Momok angka-angka dalam pelajaran matematika. Budi, Wati, dan Iwan yang rajin belajar dan senantiasa membantu orangtua. Belajar sebelum ulangan dan membuat PR dengan tulisan yang bersih dan rapi. Tidak boleh mengobrol di dalam kelas …

Sementara saya? Kuku saya hampir selalu kotor karena saya bermain di mana saja. Saya tidak pernah berhasil menghafal butir mutiara Pancasila. Saya sering dihukum karena jongkok-jongkok di tengah upacara bendera. Nilai matematika saya tidak pernah bagus. Entah mengapa saya tidak suka pada Budi, Iwan, dan Wati. Saya malas belajar sebelum ulangan dan tulisan tangan saya sangat jelek. Saya mendongeng dan bersulap di dalam kelas sampai diusir keluar. Kemudian saya tidak naik kelas. Saya tidak naik kelas karena durhaka; menyangkal ibu Budi sebagai ibu saya.

“Mamaaaa …!!!” tiba-tiba Kikan yang berlari-lari membuyarkan lamunan saya, “Kikan mau nyanyi,” katanya. “Mama duluan. Mama juga punya lagu,” tukas saya. Kemudian bernyanyilah saya,

“Ini ibu Budi, bukan ibu saya

Kalau ibu Budi, bukan ibu saya …”

Kikan bengong. “Bagus, nggak, lagu mama?” tanya saya sambil senyum-senyum. “Kok mama lagunya gitu? Kikan bukan mau nyanyi lagu itu. Kikan mau nyanyi lagunya Armada, ‘Mau dibawa ke mana hubungan kitaaaa …’” sambil bergaya-gaya Kikan menyanyikan lagu pop yang sedang populer sekarang ini. Gantian saya yang bengong.

Tahu-tahu di kepala saya terbit sebuah lagu lain. Samar tapi menggangu,

“Mau dibawa ke mana Bu Budi kitaaa …”



Minggu, 26 September 2010

Day #21: Tentang Kepercayaan Anak-anak


Ini Keshia dan maminya. Keshia murid toddler di Anak Pelangi Indonesia. Kemarin-kemarin ini Keshia yang biasa dipanggil Keke belajar “ditinggal”. Dia main di dalem sama temen-temen dan guru API, sementara sang mami dan Mbak Sri-nya nunggu di luar kelas.

Keke ngerasa nggak aman. Dia nangis terus nggak brenti-brenti. Nangisnya cukup ngotot sampe mukanya merah, ingusnya meler ke mana-mana, dan rambutnya basah kuyub kayak abis mandi. Apapun nggak bisa ngalihin perhatiannya. Yang dia mau cuma “mamih dan Mbak Sri”.

Keke sempet agak tenang waktu Miss Shinta ngajak dia makan kue. Tapi ternyata dia mau diajak makan kue karena kuenya ada di deket pintu keluar. Keke pikir dia mau dibawa nemuin mami dan Mbak Sri, pas ternyata enggak, Keke nangis lagi. Kue jadi nggak menarik dan Keke didn’t even want to touch it.

Akhirnya Miss Shinta bilang, “Ya udah. Keke mau Miss Shinta panggil mami? Kalau mau, Kekenya jangan nangis. Kalau Keke nangis lagi, Miss Shinta nggak jadi panggil mami, ya …” Keke ngangguk-ngangguk. Mendadak nangisnya brenti dan dia mau main sama temen-temennya.

Dea meratiin Keke. Beberapa kali dia noleh ke pintu dengan penuh harap, tapi mami dan Mbak Sri nggak kunjung muncul. Beberapa kali juga Dea ngeliat dia hampir nangis lagi, tapi ditahan-tahan karena dia percaya sama Miss Shinta. Dari situ Dea ngeliat betapa tulus dan nggak bersyaratnya kepercayaan anak-anak. Dea jadi terharu. Rasanya nggak tega banget kalo harus ngebohongin mereka …

Kelas toddler nggak terlalu lama. Setelah bel pulang dibunyiin dan anak-anak berdoa dengan tertib, mami Keke masuk. Dengan ceria Keke lari nyambut, meluk dia seerat-eratnya, dan akhirnya… mau makan kue.

Begitu nyampe di rumah, Dea cerita sama sepupu Dea yang belajar psikologi perkembangan anak. “Iya. Pernah ada anak yang sampe khusus terapi kepercayaan,” cerita Tiya, sepupu Dea. Kata Tiya, si anak disuruh ngasih benda ke psikolognya untuk akhirnya dikembaliin lagi. Itu dilakuin berulang-ulang supaya si anak belajar percaya lagi sama kata-kata, “Sini kasih ke ibu. Nanti ibu kembaliin.”

Bohong bisa jadi cara paling cepet dan efektif buat bikin anak-anak nurut sama kita. Tapi Dea belajar, nggak ada hal instant yang sehat untuk jangka panjang …

Sabtu, 25 September 2010

Day #20: A Duck with an Egg Behind

number twenty, day #20

Two was a duck who always brought an egg behind. It made her swam so slowly. Her friends called her “Two Slow” because she was “too slow” to swim after her friends.

“Just make your egg hatch soon, won’t you?” asked Flast Duck, a duck who always swam as fast as a flash. “It’s not the time yet,” said Two. “Or leave the egg behind, the egg drags your feet,” said Flast again. “I have a commitment with this egg,” replied Two. Flast said anything no more.
He just split the river and swam, left Two far away behind.

Two loved the egg. She loved took care of it and leaned on it when she felt tired. She believed that the egg never dragged her feet. It taught her many precious things about nurturing, patients, faith, and hope. She didn’t exactly know the thing inside the egg, but she knew something good had grown in it.

One day the egg finally cracked.

“Hey, I think this is the time!” shouted Two exciteWarna Teksdly. The eggshells peeled off little by little and touched the surface of the river, slowly flew to the sea. Something sparkle rose from the egg, “Hi, my name is Entity,” greeted the new baby born. Two was enchanted by its charm. It was a strong and solid but also beautiful, golden, and nice little thing. Outside the egg, Entity would grow with Two.

To you all who have an egg in hold

Wait them to hatch as gold.

Along this thirty days writing play,

light your spirit on day by day

Happy Sunday … ^_^

Jumat, 24 September 2010

Day #19: Itsy Bitsy Spider

Kemarin anak-anak toddler di Anak Pelangi Indonesia belajar lagu baru:

The itsy bitsy spider climbed out the water spout

Down came the rain and washed the spider out

Out came the sun and dried up all the rain

And the itsy bitsy spider climbed up the spout again

Dea yang juga baru belajar lagu itu terpesona sama Si Laba-laba. Di dalem bahasa Inggris “itsy bitsy” dipake untuk ngedefinisiin sesuatu yang kecil-imut sekaligus remeh. Kata itu tepat banget buat ngedefinisiin Si Laba-laba yang gini hari ngerayap manjat talang air.

Ujan tau-tau turun, masuk ke talang air. Tekanannya yang kuat jelas aja bikin Si Laba-laba kelempar. Yang ajaib laba-laba itu masih idup. Lebih ajaibnya lagi, dia masih punya keteguhan cukup untuk manjat lagi. Ternyata ujan yang gagah perkasa kalah sama “itsy bitsy spider”’; matahari bisa ngeringin ujan, tapi nggak ada yang bisa ngeringin semangat idup Si Laba-laba kecil. Dea jadi terharu.

“Ayo, bagian ‘washed up the spider’-nya yang kuat yaaaa …,” kata Miss Shinta. Dengan sungguh-sungguh anak-anak ngelakuin gerakan ngegusah sekuat tenaga. Mereka jadi air ujan yang masuk ke talang air.

Ada berapa banyak laba-laba yang kegusah air di tengah musim ini? Dari antara mereka, ada berapa banyak yang bertahan? Apa kelak mereka berhasil nyulam jaring emas yang kemilau disentuh cahaya?

Sambil ngelakuin gerakan “out came the sun …” Dea berdoa: semoga matahari yang berkaki sinar-sinar terus memelihara langkah para laba-laba …


Kamis, 23 September 2010

Day #18: Pelajaran Bahasa Indonesia Kontemporer

Dulu Atau bernama Dan. Ia ada di antara ayah-ibu untuk mempersatukan mereka. Kemudian sesuatu terjadi. Ayah-ibu memutuskan untuk berpisah sehingga nama Dan berubah menjadi Atau. Ia tidak lagi mempersatukan ayah-ibu, justru harus memilih seorang di antaranya.

Atau tidak bisa memilih. Dia tidak mungkin menjadi “Ayah atau” maupun “Ibu atau”. Ia pun tidak bisa berdiri sendiri karena Atau bukan subyek yang mandiri. Maka Atau terlunta-lunta di belantara kata. Bimbang karena tak punya arti.

Pada suatu hari Krak, onomatopea (tiruan bunyi) dari sesuatu yang patah, datang menghampiri. Ia yang tahu persis rasanya terbelah menaruh simpati pada Atau. “Setidaknya ‘krak’ lebih mandiri daripada ‘atau’. Aku adalah kata hubung, lumpuh saat tak menghubungkan apapun,” keluh Atau. “Tetapi aku ini seperti bayang-bayang, Atau. Pada dasarnya aku tidak punya makna,” tanggap Krak. Keduanya lalu terdiam merenungi nasib masing-masing.

“Hei, kenapa kita tidak bergabung saja?” usul Atau. “Bergabung bagaimana?” Krak balik bertanya. “Kita tidak perlu menggantungkan diri pada kalimat. Mari menjadi kata benda, sebuah subyek yang dapat menjelaskan dirinya sendiri,” ujar Atau.

Sejak saat itu Krak dan Atau bergabung. Mereka melupakan masa lalu dan membangun makna baru yang sama sekali berbeda dengan pengertian yang mereka sandang sendiri-sendiri. Bersatulah mereka sebagai “Krakatau”, nama sebuah gunung berapi di antara pulau Jawa dan Sumatera. Krakatau berjaya di sana hingga kemudian sirna karena letusannya sendiri.

“Kami tidak sirna!” koreksi Krak

“Ya. Benda yang kami jelaskanlah yang sirna. Kami sendiri abadi sebagai kata,” tambah Atau.

***

“Anak-anak, demikianlah pelajaran Bahasa Indonesia hari ini. Semoga Jumat kalian penuh rahmat. Selamat menunaikan ibadah shalat Jumat bagi pemeluk agama Islam.” Bu Guru berkemas dan Krak! Penggarisnya patah. Tunggu dulu. Penggaris atau pinsilnya …?


Guru besar Bahasa Indonesia, J.S Badudu

dan Salamatahari buku dengan bahasa Indonesia "kontemporer" =p

Rabu, 22 September 2010

Day #17: "Semoga Cepat Sembuh ..."

Serbuan hujan dan ketidakpastian cuaca membawa berbagai penyakit; mulai dari sekedar kemalasan yang mengganggu kinerja, demam, diare, sampai masalah kulit. Lalu di tengah musim ini, ucapan “semoga cepat sembuh” dan sejenisnya berkeliaran di mana-mana; di antara teman-teman saat kita bertemu, di telpon dan sms, di internet, di radio dan televisi, bahkan di iklan-iklan.

Ucapan “semoga cepat sembuh” seperti mantra baik yang menggebah penyakit dengan caranya sendiri. Di dalamnya terramu perhatian, kasih sayang, dan doa. Mereka yang berlalu-lalang di semesta bertukar pengaruh seperti prinsip virus dalam imunisasi.

Minggu ini Salamatahari hadir dengan posting-posting yang berkaitan dengan ucapan ini. Ada virus 30 hari menulis yang bertujuan menyehatkan kembali semangat blogging, ada lagu Rain on Meadow yang merawatmu dengan nada-nada, ada kelinci gula-gula yang menyangka dirinya terkena diabetes, dan ada resep kulit bakpao, jajanan nikmat yang kerap hadir di seputar rumah sakit dan apotek.

Pada musim ini, ketika tubuh kita mulai lemban, tebar mantra baik ini ke mana-mana:

“Semoga cepat sembuh, jaga kesehatanmu …”

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea


Lima posting seputar "Semoga Cepat Sembuh" di www.salamatahari.com edisi 42. Silakan berkujung ... =)

Selasa, 21 September 2010

Day #16: A Story about Living

The Living Room felt gloom. It was the only room that was living in the house. The kitchen, the restroom, and rooms around it never replied to its “hello”. That was why the Living Room always felt lonely.

The Living Room felt a little bit glad when the light of the sunshine touched it floor in the morning. But the world kept on spinning so The Living Room couldn’t play with the sun all day long.



In the night, The Living Room tried to reach the moon and stars. But they were too far away. The Living Room sometimes thought that being alive was not always graceful.

One day, a little bird knocked the window, “Good morning, it’s good to meet something living in this house,” greeted the bird. “Yea. The only thing that’s living and always lonely,” The Living Room grumped. “Don’t you see? Jasmine your owner is also a living thing. She’s just going to work for a while. Don’t you see that she also feels lonely?” tweeted the bird.

Ever since that time, The Living Room put its eyes on Jasmine. The Living Room never really realized about Jasmine’s live because Jasmine seemed to forget how to live. She woke up in the morning, had some instant breakfast, dressed carelessly, and went to work. She would came back home at about 08.00 p.m. Took a bath. Had a dinner. And went to bed.

Every living thing had their natural warmth, but Jasmine was as cold as ice. If the bird hadn’t told it, The Living Room would never know that Jasmine was alive.

One sorrowful night, when Jasmine arrived at home after her tiring working day, she sat in The Living Room; cold as ice as always. Since knowing that Jasmine was a living thing, The Living Room intended to share its life. It hugged Jasmine with its warmth, and Jasmine slowly melted.

“Hey! I never felt this way for years! How does this feeling come to me suddenly?” Jasmine asked herself. She didn’t know how The Living Room worked. All she knew that she felt empty no more. The next day, she woke up early, made a healthy breakfast, and dressed beautifully. Then after working all day, she came back home with a smile. She sat in her cozy Living Room and recharged. The Living Room filled her with life and her life filled Living Room in return.

One beautiful morning, the bird who told The Living Room about Jasmine came again, knocked the window, and brought another story, “Don’t you see? Soon you won’t be the only living place in the house. Look outside this window!”

And there, a garden started to grow and glow. The sun spotted jasmine flowers that started to bloom and killed the gloom. “Your Miss Jasmine planted it. Life needs another life to share, another place to spread,” tweeted the bird.

The Living Room found the meaning of being alive. It knew that every living thing life because another’s life. If Jasmine hadn’t planted them, the jasmine flowers wouldn’t grow. And if The Living Room hadn’t hugged Jasmine, she wouldn’t ever plant the flowers.

A life started in a Living Room, plugged by a bird. Nobody knows but us, not even Jasmine herself.

Psst … keep this as our little secret,

but spread the life to all the earth …