Tampilkan postingan dengan label humming. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humming. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 September 2017

atau

Waktu kecewa, Dea suka tiba-tiba ngerasa sediiiih sekali.

Tapi Dea nggak tau apa yang bikin lebih sedih.

Nggak dapet apa yang Dea mau

atau 

Ngerasa buruk karena gagal memahami orang-orang dan situasi.





Suatu saat nanti mungkin Dea bakal ngerti

atau

Seengaknya Dea belajar berdamai sama hal-hal seperti ini.

 

Jumat, 10 Juni 2016

Posting Ulangtaun



Ketika jadi sehari lebih dewasa, Dea belajar kalau Dea nggak perlu "mengalahkan diri sendiri". Diri kita bukan musuh yang harus ditaklukin. Dia adalah sahabat yang perlu dipahami dan diajak berdiplomasi secara adil. Kadang dia perlu didorong, kadang perlu dikasih peringatan, kadang perlu dihargai secara proporsional, tapi kadang perlu diterima juga kekalahan-kekalahannya.

Kekecewaan adalah konsekuensi harapan-harapan.


Tanggung jawab adalah konsekuensi atas segala yang kita mengerti.

Kesedihan adalah konsekuensi mengakomodasi perasaan
  

 Bandung, 10 Juni 2016


Sabtu, 28 Mei 2016

Yin dan Yang

Sometimes the system goes on the blink
And the whole thing turns out wrong

Adakalanya kita ngalamin sepanjang hari yg buruk. Ngerjain apapun kayak nggak bener terus. Kecil-kecil sih masalahnya, tapi karena nonstop hits dan nimbulin kerugian-kerusakan bertubi-tubi, jengkelnya numpuk. Sampai di penghujung hari Dea nggak bisa ketawa-ketawa kayak biasanya.

"Anggep aja ngurangin karma jelek," kata Ikan Paus
"Karma jelek?"
"Iya. Di idup kita kan musti ngalamin kesialan dan keberuntungan secara seimbang. Datengnya bisa dalam bentuk apa aja."

Abis meluk Dea, Ikan Paus bobo. Dea masih kesel dan nyeselin kerugian-kerusakan yg terjadi, tapi berterima sama apa yg Ikan Paus bilang. Akhirnya Dea mutusin nulis aja.

Dea nggak berusaha mebombardir rasa kesel Dea dengan kata-kata motivasi positif. Dea ngebiarin perasaan itu ada di situ sampai surut sendiri pada waktunya. Dea kenalin dan Dea terima apa adanya. Kalau idup emang seimbang, Dea perlu ngasih ruang yg adil utk setiap perasaan yg dateng. Yang positif dan yang negatif. Sesal dan syukur. Sebab itu yg bikin Dea utuh sebagai manusia.

You're coming back down and you really don't mind...

*minum teh rosela pake sereh*

 Bandung, 28 Mei 2016
 

 

Sabtu, 13 Juni 2015

Dea dan Si Tokoh Cerita


Ok, Tokoh, silakan bercerita tentang diri kamu sendiri. Maaf kalau kemaren-kemaren Dea sempet agak otoriter dan terlalu berusaha ngatur kamu untuk berbagai kepentingan. Dea lupa kompromi sama kamu, lupa ngedengerin keinginan kamu, dan lupa kalau bagian Dea sebenernya ngelempar alur aja. Kamulah yang seharusnya ngerespon alur itu, karena kamulah yang bergulir di dalam cerita.

Sekarang Dea sadar, keotoriteran Dealah yang bikin kamu nggak nyaman ada di cerita Dea. Harusnya Dea nggak maksain dan justru sadar untuk loosen up.

***

Mulai jam tujuh pagi ini, si tokoh Dea biarin bercerita sendiri. Dia boleh milih style dan bahasa yang nyaman buat dia. Ternyata jadinya lebih ngalir. Tokoh di cerita kita jadi idup bukan karena kita bikin. Pada dasarnya mereka memang idup kalau kita kasih ruang untuk bernafas.

Berdialog dan bernegosiasi secara adil dengan tokoh yang kita tulis rasanya menyenangkan 

Ketika kamu nulis cerita, cobain, deh ^^ v



Senin, 06 April 2015

Djambatan

sejauh-jauhnya jarak,

atau sedalam-dalamnya jurang,

bukan masalah.



asal, 

kita punya jembatan kokoh,

yang dapat menopang kita berlari-lari,

menyeberang tanpa kekhawatiran,

sambil membawa ransel besar berisi oleh-oleh cerita


dan,

kita tahu jembatan itu tetap ada di situ,


kapanpun kita ingin pulang.



jarak dan jurang tak harus dibuat merapat.

pun bukan alasan untuk merasa terjebak di satu sisi. 

Jumat, 16 Januari 2015

Resolusi 2015 - Nibbana

Punya hati selapang-lapangnya,
supaya selalu bisa bersyukur seterang-terangnya,
dan nerima apapun seikhlas-ikhlasnya.

*berdoa*

Itu aja. Semoga bisa, ya, 2015 :)

Rabu, 05 Maret 2014

Bukan Quote Mario Teguh

Kadang, 
cara terbaik untuk ngelewatin sesuatu yang terlalu nggak enak
bukan dengan maksain itu jadi sesuatu yang enak dan positif.
 Let it pass through us as something awful and unpleasant
Nggak usah dilawan atau dibela dengan apapun. 



Percaya, deh, rasanya seringkali  justru bakal lebih gampang…

Senin, 06 Januari 2014

Resolusi 2014

Setiap sungai ....



Selalu menemukan jalan menuju lautnya ...


Jika ia mengalir tanpa tersumbat, mengalur percaya mengikuti natur, dan cukup cair untuk tidak memaksakan apapun

Dea percaya, hal-hal terbaik lahir dari kelapangan dan keikhlasan

^_^ 

foto: Fauzie Wiriadisastra

Minggu, 09 Juni 2013

Sun in Gemini, Moon in Virgo



Hampir semua keakraban bertolak dari sesuatu yang asing. Jadi, nggak perlu khawatir waktu ngerasa terasing. 

Musim dingin nggak akan abadi kalau kita mau ngegelinding bersama waktu,  bukannya ngunci diri di kebekuannya. 

Senyum yang banyak, jangan sampai kasih sayang kita kesumbat asumsi-asumsi negatif. 

Nggak ada orang yang nolak perhatian dan kebaikan ...

^_^


Rabu, 05 September 2012

Kalau (2)

Kalau ujan turun deras tiba-tiba waktu kita lalai bawa payung,

kita harus cepet-cepet mutusin;

langsung lari pulang nerabas ujan atau nyari tempat untuk berteduh dulu.

Kemungkinan besar kita akan masuk angin karena keburu setengah basah

Tapi ya udah

ada hal-hal yang memang nggak mungkin kita hindarin :)





Rabu, 04 Januari 2012

Kalau

Dea nggak akan nyalahin salesman/salesgirl kalo ada orang yang jadi belanja yang enggak-enggak karena dibujuk sales.

Sales kan sales aja, emang udah kerjaannya.

Pembeli itu predikat yang kita tentuin sendiri.

 

Sabtu, 12 November 2011

Bunny in My Tummy

A little bunny hops in my tummy every time you’re around










I believe in butterflies,

but I have to test this bunny thing ;)

Senin, 24 Oktober 2011

Sistem Pencernaan

 

Kita tidak selalu bisa memuntahkan kemarahan.

Tapi kita selalu punya pilihan untuk menelannya.

Supaya ia tidak membusuk di dalam perutmu,

jangan abai minum air putih sebanyak-banyaknya.

Suatu saat kemarahan akan tercerna juga.

 

Minggu, 24 April 2011

Pelajaran IPA

Mengapa air laut menguap ?

Alasannya sederhana. Seperti kita, ia menguap karena mengantuk. Angin laut yang semilir melenakannya. Debur ombak membuainya. Sayup suara camar seperti lagu tidur yang tak pernah berhenti. Lalu air laut mulai kehilangan keawasannya. Terkantuk-kantuk. Dan lelap di pelukan Bunda Bumi.

Mengapa ada awan-awan di angkasa ?

Alasannya sederhana. Seperti kita, air laut pun bermimpi. Ketika ia menguap, keawasannya melayang-layang ke angkasa. Merumpun menjadi bentuk-bentuk yang bebas kau tafsirkan sebagai apa saja. Mereka berubah-ubah, kadang menjadi sesuatu yang tak jelas, tapi selalu menarik untuk dicermati. Setiap hari kita bisa melihat mimpi-mimpi air laut. Menakjubkan bukan ?

Mengapa hujan turun ke bumi ?

Alasannya sederhana. Seperti mimpi-mimpi kita, mimpi air laut pun selalu berangkat dan pulang kembali sebagai kenyataan. Ketika turun sebagai hujan, ia bukan lagi benda putih mirip kapas yang melayang di angkasa, tapi esensinya tak berubah. Mimpi-mimpi air laut menyentuh tanah. Memberi minum rumput dan bunga. Mampir ke atap rumah, payung, dan kepala kita. Mengaliri kehidupan dan menjadi kehidupan itu sendiri. Ketika ia kembali ke lautan, akan ada lagi yang bertanya,

Mengapa air laut menguap ?

Hidup berputar dengan alasan sederhana. Tapi kisah berpendar dengan cerita yang tak pernah sepenuhnya sama …


langitbiru

Jumat, 18 Maret 2011

Moment

Tempat paling aman di dunia adalah:

Ketika Dea berpura-pura menjadi anak kucing dan stetoskop,
melingkar dan meletakkan telinga di dekat jantung seseorang,
lalu merasa tinggal dalam rahim dan tak akan pernah dilahirkan.

Waktu seperti berhenti pada saat itu,
tetapi pada saat itu,
kita memutuskan untuk berhenti menguji waktu.


Ingatanlah yang kemudian memilih
apa yang ingin selamanya ia selimuti ...


pada suatu hari di bulan Maret 2011,
untuk seseorang yang bikin perut Dea berkupu-kupu
Makasih, ya ... ^_^


Selasa, 28 September 2010

Day #23: Memeluk Agama

Di sela rusuh-rusuh akibat FPI dan Queer Movie Festival kemarin, tahu-tahu sebuah pertanyaan melintas di kepala saya, “Waktu kita memeluk agama, apakah agama membalas pelukan kita?” Agama adalah tiang yang terpancang kuat pada dasar yang teguh. Ia adalah prinsip yang kita yakini. Pegangan yang membuat kita tak mudah terbawa arus. Tetapi agama adalah sebuah doktrin yang dingin dan mengawasi kita dalam aturan-aturan; sesuai dengan asal katanya: “a” dan “gama” yang berarti “tidak kacau”. Jika pada prakteknya agama kadang justru menimbulkan kekacauan, saya rasa karena setiap agama mempunyai ukuran “tidak kacau”-nya masing-masing. Ketika mereka berbentur, “crash”-lah mereka seperti program-program komputer tertentu.

Sebagai seseorang dengan kebutuhan afeksi yang cukup tinggi dan merasa memeluk agama, saya jadi kurang bahagia. Sungguh tidak asyik hidup dengan sesuatu yang kita peluk namun tak pernah kembali memeluk kita. Di tengah permenungan dalam perjalanan berangkot serta huru-hara yang terus berdesing, saya merasa dicolek oleh sesuatu.

Neng, Neng, cemberut aje. Mikirin agama, ya?

*melihat keluar jendela dan tidak menjawab*

Agama entu pan rangka, Neng. Kalo meluk balik serem juga, kali ...

Iya juga, sih ....

Kalo Eneng mau dipeluk, jangan sama agama,ya sama otot, saraf, dan dagingnye agama …

Hah? Yang mana?

Suara gaib itu lalu hilang disesap polusi jalan raya. Ia bersatu dengan semesta dan luruh dalam keringat manusia. Ia hadir dalam tatapan penuh harap supir angkot Caringin-Sedang Serang, dalam nenek-nenek yang mengucapkan ‘Bismillah’ dengan suara bergetar saat memasuki angkot, dalam lagu gereja yang disenandungkan setengah suara oleh seorang penumpang, dalam mata saya sendiri ketika melalui spion angkot saya tahu ia diam-diam protes karena lelah terlalu lama berhadapan dengan monitor laptop. Lalu saya merasa dipeluk.

Pelukan adalah bahasa yang personal dan universal. Ia tidak mengawasi kita dalam aturan tetapi semoga mengatur kita dalam keawasan. Syaraf membuatnya bergerak melintasi kerangka. Melintasi agama.

Barangkali FPI adalah sebuah agama sendiri. Sebagai rangka ia sangat kuat. Semoga ia makan cukup banyak agar otot, syaraf, dan daging dapat membalas pelukan para pemeluknya …


Minggu, 26 September 2010

Day #21: Tentang Kepercayaan Anak-anak


Ini Keshia dan maminya. Keshia murid toddler di Anak Pelangi Indonesia. Kemarin-kemarin ini Keshia yang biasa dipanggil Keke belajar “ditinggal”. Dia main di dalem sama temen-temen dan guru API, sementara sang mami dan Mbak Sri-nya nunggu di luar kelas.

Keke ngerasa nggak aman. Dia nangis terus nggak brenti-brenti. Nangisnya cukup ngotot sampe mukanya merah, ingusnya meler ke mana-mana, dan rambutnya basah kuyub kayak abis mandi. Apapun nggak bisa ngalihin perhatiannya. Yang dia mau cuma “mamih dan Mbak Sri”.

Keke sempet agak tenang waktu Miss Shinta ngajak dia makan kue. Tapi ternyata dia mau diajak makan kue karena kuenya ada di deket pintu keluar. Keke pikir dia mau dibawa nemuin mami dan Mbak Sri, pas ternyata enggak, Keke nangis lagi. Kue jadi nggak menarik dan Keke didn’t even want to touch it.

Akhirnya Miss Shinta bilang, “Ya udah. Keke mau Miss Shinta panggil mami? Kalau mau, Kekenya jangan nangis. Kalau Keke nangis lagi, Miss Shinta nggak jadi panggil mami, ya …” Keke ngangguk-ngangguk. Mendadak nangisnya brenti dan dia mau main sama temen-temennya.

Dea meratiin Keke. Beberapa kali dia noleh ke pintu dengan penuh harap, tapi mami dan Mbak Sri nggak kunjung muncul. Beberapa kali juga Dea ngeliat dia hampir nangis lagi, tapi ditahan-tahan karena dia percaya sama Miss Shinta. Dari situ Dea ngeliat betapa tulus dan nggak bersyaratnya kepercayaan anak-anak. Dea jadi terharu. Rasanya nggak tega banget kalo harus ngebohongin mereka …

Kelas toddler nggak terlalu lama. Setelah bel pulang dibunyiin dan anak-anak berdoa dengan tertib, mami Keke masuk. Dengan ceria Keke lari nyambut, meluk dia seerat-eratnya, dan akhirnya… mau makan kue.

Begitu nyampe di rumah, Dea cerita sama sepupu Dea yang belajar psikologi perkembangan anak. “Iya. Pernah ada anak yang sampe khusus terapi kepercayaan,” cerita Tiya, sepupu Dea. Kata Tiya, si anak disuruh ngasih benda ke psikolognya untuk akhirnya dikembaliin lagi. Itu dilakuin berulang-ulang supaya si anak belajar percaya lagi sama kata-kata, “Sini kasih ke ibu. Nanti ibu kembaliin.”

Bohong bisa jadi cara paling cepet dan efektif buat bikin anak-anak nurut sama kita. Tapi Dea belajar, nggak ada hal instant yang sehat untuk jangka panjang …

Kamis, 09 September 2010

Day #4 : Maling

“De, sendal Eiger sama sepatu Raymond ilang.”

“Hah? Kok bisa?”

“Kosnya kemalingan. Yang aneh, yang diambil sepatu doang. Padahal sepanjang jalan ke kamar banyak barang-barang berharga yang lain, lho …”

Menjelang Lebaran, maling bertebaran. Mulai dari copet kecil-kecilan, sampai rampok betulan. Peristiwa raibnya sepatu pacar sepupu Dea ngingetin Dea sama peristiwa pencurian di rumah Dea bertaun-taun yang lalu. Waktu itu menjelang Lebaran juga. Barang yang dicuri pun ajaib juga.

Rumah Dea di Jakarta terletak di daerah yang cukup aman, jadi dulu kami nggak pernah terlalu kuatir ninggalin rumah dalem keadaan kosong. Pada suatu hari menjelang Lebaran, pas Mbak yang kerja di rumah udah pada pulang, kami semua berangkat ke Bandung. Kami tenang-tenang aja sampai tau-tau tetangga ngasih kabar kalo rumah kami dibobol. Keluarga Dea cepet-cepet pulang.

“Apa aja yang ilang?” begitu kami udah di rumah, tante di Bandung nanya lewat telpon“Perhiasan, uang, pisau-pisau koleksi … oh, iya, boneka-boneka Dea juga,” kata mama.

“Boneka Dea? Mungkin dia inget anaknya, ya …”

Waktu itu Dea masih kecil, tapi Dea inget betul peristiwa itu. Rasanya Dea sempet nyatet kejadian itu di buku harian juga: Sedih karena rumah kebobolan. Sedih karena boneka-boneka Dea ilang. Sedih karena liburan kepotong sama perasaan nggak menyenangkan. Tapi taun ini tau-tau ada bagian lain dari peristiwa itu yang kesorot spot light: “Boneka-boneka Dea ilang. Si maling inget anaknya.”

Pencurian menjelang hari raya berlatar banyak motif dan warna. Di balik cap “kriminal” yang ngebayang, ada sesuatu yang fitri juga. Pada dasarnya kasih sayang itu lugu dan selalu ingin memberi. Si maling yang sayang sama anaknya kepengen bikin si anak bahagia di hari raya apapun caranya.

Tau-tau Dea inget petasan. Suaranya yang ngagetin bikin kita yang nggak terlibat di permainan suka sebel. Pengen marah-marah aja bawaannya. Tapi pernah pada suatu hari Dea ngeliat percik warna-warni bunga api petasan lompat dari balik atep rumah. Terangnya sebentar sekali, tapi cantik dan raya.

Petasan buka peta yang nunjukin jalan yang benar. Tapi peta selalu menuntun arah.

Selamat hari raya Idul Fitri 1431 H, Temen-temen

Mohon maaf lahir dan batin …





Day #3: Ke Mana Kupu-kupu Pulang


“Kupu-kupu yang lucu, ke mana engkau terbang,

hilir mudik mencari …”*

“Mudik” mengacu arah yang pasti, tetapi “hilir-mudik” menyiratkan kebimbangan. Selama bertahun-tahun lagu Kupu-kupu bergulir tanpa sekuel. Mungkin hingga detik ini kupu-kupu yang lucu masih hilir-mudik bimbang mencari bunga-bunga yang kembang. Bunga-bunga bukan rumahnya. Di sana ia hanya singgah.

Arus mudik, berita-berita di koran dan televisi, pembantu rumah tangga kami yang pulang setelah merencanakannya sejak jauh-jauh hari, adik saya, sepupu saya, dan suaminya yang pagi-pagi buta tiba di rumah, mengingatkan saya kepada si kupu-kupu. Ketika Idul Fitri menjelang dan semua bergerak pulang, ke mana kupu-kupu pulang?

“Berayun-ayun, pada tangkai yang lemah

Tidakkah sayapmu, merasa lelah …”*

Yang bukan rumah tak akan menggenggammu erat-erat. Ke mana kamu tahun ini, kupu-kupu? Pada siapa kamu akan memberi dan meminta maaf? Apa ibadahmu memang kembara sepanjang masa?

Selamat bermalam takbiran kupu-kupu yang lucu …



*diambil dari lirik lagu Kupu-kupu ciptaan Ibu Sud