Tampilkan postingan dengan label hadiahdaridea. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hadiahdaridea. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Maret 2015

Bukan Liputan Konser Anak Sungai



Setelah ngedenger album terbaru Deugalih and Folks, secara intuitif ada sesuatu yang Dea tangkep di album itu. Dea ngerasa ngerti, tapi susah ngejelasin dengan gamblang. Akhirnya semua intuisi Dea, Dea coba "jelasin" lewat review ini.

Tapi setelah dateng ke konser "Anak Sungai" kemaren, pemahaman yang centang perenang itu jadi terjelaskan. Galih seperti pake baju yang udah "kesempitan" ketika ngebawain materi-materi yang rencana rilis tiga taun yang lalu itu. Dia bertumbuh, tapi lagu-lagu yang dia bawain nggak ikut bertumbuh bersama dia. Lagu-lagu Galih yang lalu adalah jejak sejarahnya, tapi bukan "saat ini"-nya. Sementara sejauh yang Dea tau, seluruh keidupan Galih dan gimana dia berkesenian nggak pernah bisa dipisah.

Sekitar 13 taunan yang lalu -- terutama waktu awal-awal kuliah -- Galih adalah mahasiswa yang badung dan sering cari gara-gara. Mulai dari dosen sampe temen-temen kuliah, semua pusing ngadepin dia. Cuma di sisi lain, karena dia orangnya sincere, kita semua juga bisa bertemen cukup akrab sama dia (sisa-sisa relasi uniknya sama kampus bisa diliat dari keakraban Galih sama dosen kami Pak Ono, pemain thin whistle Deugalih and Folks hehe ...).

Tapi di masa itu, sebagai manusia Galih sedang kompleks-kompleksnya. Emosinya naik-turun nggak menentu. Di satu masa dia bisa keliatan riang setengah mati, tiba-tiba diem aja di kantin terus ngegebrak meja entah karena apa, dan sering ngeluh ngedenger suara-suara yang ngeganggu (waktu itu cuma Yadi Si Santai -- pemain gitar Deugalih and Folks -- yang tahan konsisten banget nemenin Galih).  

Pada era-era itu, Galih nge-grunge banget. Rata-rata lagunya frustrasi. Ada yang tentang bunuh diri, schizoprenia, perasaan teralienasi, bahkan di musikalisasi puisi "Buat Gadis Rasjid" Galih nyisipin sebaris jerit-jerit grunge-nya. Cara nyanyi Galih nggak jauh beda sama pembawaannya sehari-hari. Meledak-ledak, frustrasi, dan masa-masa itu berakhir setelah Galih akhirnya drop out dari kampus. 

Setelah drop out, Galih mulai memasuki fase lain dalam berkaryanya. Lucunya, bukannya tambah frustrasi, Dea liat Galih malah jadi lebih tenang. Dia nggak semeledak-ledak sebelumnya. Mulai jarang juga cerita tentang suara-suara aneh yang tadinya suka tiba-tiba dia denger. Lebih ikhlas ngelepas apapun yang diambil dari idupnya. Padahal sebenernya di masa itu idup dia justru semakin nggak jelas. Dia masih tinggal di Jatinangor, nggak punya kosan, dan nggak punya kerjaan yang bener-bener pasti.

Sebenernya di era itu Galih jadi nggak punya power lagi ketika nge-grunge, nggak bisa connect lagi ketika nyanyiin lagu-lagunya yang frustrasi, nggak bisa galau-galau stress lagi kalau bikin lirik, tapi dia nggak maksain diri. Dia ngebiarin karya-karyanya ngebawa ke mana dia harus ngalir dan berkembang sesuai dengan perkembangannya sendiri. Lirik-lirik lagu Galih jadi lebih santai dan naratif banget. Galih suka ngamen dari warung makan yang satu ke warung makan yang lain di Jatinangor, dan banyak warung yang senang. Sebagai imbalan, warung-warung itu suka ngasih Galih makanan gratis. Dan kalau nggak salah sih di masa-masa ini jugalah lahir Deugalih and Folks. 

Masa-masa Galih nge-folk lumayan panjang. Dan sekitar dua-tiga taun terakhir, Dea udah jarang banget ngobrol sama Galih karena kami punya kesibukan sendiri-sendiri. Apalagi Galih terus pindah ke Jakarta dan jadi guru di sana. Tapi beberapa minggu sebelum konser "Anak Sungai", Dea sempet ketemu Galih karena dateng ke workshop yang dia bawain. Di situ kami ngobrol rada banyak. Dan di situ juga Dea ngeliat kalau Galih tampak lagi dalam proses pindah fase lagi.

Galih cerita tentang murid-muridnya di sekolah, dan kekhawatiran dia ngeliat anak-anak di sana yang rentan banget karena nggak pernah "kalah". Galih ngerasa bertanggung jawab ngebantu mereka jadi generasi yang lebih baik. Dia juga cerita soal rencananya nikah, ngebangun masa depan sama pacarnya yang cantik dan sangat supportive, Yaya. Sekilas dia cerita juga tentang album "Anak Sungai"-nya yang mau rilis. Ritmenya mulai dipenuhi (!), (,), dan (?) bukan melulu (...) lagi. 

Waktu dateng ke konser Anak Sungai, Dea ngerasa, bukan lagu-lagu di albumnya itu lagilah yang jadi kegelisahan Galih saat ini. Makanya ekspresi dia ketika bercerita jadi agak nggak pas. Kondisinya mirip bertaun-taun yang lalu, ketika dia masih dikenal sebagai musisi grunge, tapi jiwanya udah nge-folk. Di konser kemaren, Galih bukan lagi story teller yang tenang. Di setiap lagunya, dia seperti selalu kepengen tereak dan meledak. Dan kenggaknyamanannya ngebawain lagu-lagu itu transfer ke satu-dua penonton, termasuk Dea. 

Menjelang akhir konser, Galih ngasih bonus. Deugalih and Folks ngebawain lagu yang nggak ada di album "Anak Sungai" tapi katanya mungkin bakal dirilis di album berikutnya. Judulnya Puraka. Dea rada lupa lagunya tentang apa, terutama karena liriknya bahasa sansekerta. Tapi di situ baru kerasa kalau ... ini dia Galih yang sekarang! Di situ Galih bebas berteriak, dan nyaman ngekspresiin kegelisahannya. Energinya pun bikin The Folks jadi lebih kuat dan solid. Tapi nggak seperti di era-era kuliah, kegelisahannya kali ini kerasa lebih mateng. Lebih spiritual. Dea belom bisa komentar banyak karena fase ini baru aja dimulai, kita masih nunggu perkembangannya.



Sepulang konser, Ikan Paus, Om Em, dan Dea ngebahas apa yang kami tonton. Dea juga cerita sedikit ke Ikan Paus tentang proses berkesenian Galih, supaya Ikan Paus yang baru aja kenal Galih punya gambaran. Kami sepakat, akan berat buat Galih kalau nge-repress energinya yang besar. Galih perlu nyeritain apa yang dia mau ceritain, karena itulah "wahyu" yang dititip ke dia sebagai seniman. Untuk album, sekadar saran, sih, mungkin bisa agak tricky. Rekamnya dicicil supaya nggak keilangan moment. Karena kalau sampe harus nunggu tiga taun, materinya bisa jadi udah keburu "kesempitan" dan Galih nggak pernah bisa berakting ketika bermusik. 

"Dulu musisi itu tempatnya memang di panggung. Tapi setelah ada industri rekaman dan menguntungkan, orang-orang jadi lebih ngejer ke situ. Sekarang kayaknya sih musisi udah mulai kembali lagi ke panggung," kata Ikan Paus. 

Dan dari dulu, Galih memang musisi panggung. Dia nggak pernah pilih kasih sama panggung manapun yang selalu dia pijak tanpa alas kaki. Mau itu panggung kampus, lantai dingin warung makan, karpet anget cafe, panggung acara hore-hore belaka, sampai panggungnya musisi beken internasional, Daniel Sahuleka.

Bermusik adalah cara Galih melihara idupnya. Ngejaga kewarasannya. Dan mencatat sejarah dirinya sendiri. 

Mengutip kata-kata fisluf Heraclitus:


Into the same rivers we step and yet we do not step, we exist and at the same time we do not exist
In the end, there is only flux, everything gives way


Jadi, pantai rei, Galih. Temuin cerita-cerita baru yang asyik di sepanjang perjalanan lu selanjutnya. 

Selamat sekali lagi buat rilisnya album "Anak Sungai" dan konser kalian yang sukses banget kemaren ^^




Minggu, 30 November 2014

Tao

Ini yang ditulis Jin Zombi Rukmunal Hakim di undangan pernikahannya:

Dedicated to:
Sundea dan Fauzie

Teman yang tidak pernah terlalu dekat, tapi tidak pernah terlalu jauh
Ada tanpa dipaksa, dan berlalu tanpa terburu-buru. 



Pertemanan Hakim dan Dea memang agak-agak unik. Dibilang deket ... nggak juga. Dibilang nggak deket ... ya nggak juga. Kami nggak terlalu sering hang out bareng. Nggak pernah saling nyari juga ketika salah satu butuh curhat atau ditemenin. Kami bisa dengan entengnya ngobrol hal-hal personal secara dalem kalau kebetulan ketemu. Tapi kalau abis itu nggak ketemu lagi juga ya udah aja. Kami nggak ngerasa perlu saling ngabarin secara khusus kalau ada perkembangan penting di idup kami. Nggak ada kebiasaan umum persahabatan yang kami jalanin, kecuali tetep tulus dan apa adanya ke satu sama lain.

Kami kenal sekitar 2,5 taunan yang lalu. Ceritanya waktu itu Dea mau dateng ke pameran Kopi Keliling di Jakarta, tapi nggak ada temen berangkat bareng dari Bandung. Tau-tau aja Rensi, salah satu temen ilustrator kami dari Jakarta, nyaranin Hakim dan Dea berangkat bareng. Dengan entengnya kami nyambut ide Rensi. Besoknya kami baru kenalan persis sebelum berangkat sama-sama (tepatnya Dea nebeng Hakim) ke Jakarta. Sesederhana itu. Padahal sebelumnya kami saling tau aja enggak :)))

Sejak pertama banget kenal, Hakim langsung kerasa seperti temen lama. Dia nggak terlalu banyak ngomong dan suka nggak ketebak juga apa yang ada di pikirannya, tapi -- walaupun nama dia Hakim -- Dea nggak pernah ngerasa takut dihakimin kalau sekali-sekali bersikap agak menyebalkan di depan dia.

Mulai awal taun yang lalu kami berkolaborasi bikin Zodiak Gembira. Proyek ini kami kerjain tanpa target dan ambisi apa-apa. Biarpun udah kerja bareng, bentuk pertemanan kami pun tetep begitu-begitu aja; jarang in touch, jarang curhat, dan kami tetep sibuk dengan idup kami masing-masing. Lucunya, Zodiak Gembira seperti punya auto pilot untuk konsisten jalan terus dan berkembang dengan sendirinya.  

Artwork Zombi untuk Nindya Lubis  

Bulan April kemaren, Zodiak Gembira diundang ke Sarah Sechan Show di NET TV. Kami berangkat dengan blah-bloh. Kami nggak pernah nyangka proyek senang-senang ini bisa “berenang” sampai ke sana.  Dalam perjalanan menuju Jakarta, kami ngobrol banyak banget. Tentang passion, tentang ide karya terbaru, tentang definisi pertemanan, tentang cara ngejalanin idup, sampai akhirnya Hakim ngasih tau sesuatu.

“De, jangan kasih tau siapa-siapa dulu, ya. November ini gua nikah. Sebentar lagi, ya?”
“Woah … selamat! Lu juga jangan kasih tau siapa-siapa. Gua nikah Mei ini. Tapi gua nggak ngomong ke terlalu banyak orang karena nikahnya di gereja aja. Lu dateng, ya …”
“Wah! Selamat! Lu sebentar lagi banget malah! Iya, nanti gua dateng”.

Abis itu kami sempet flash back. Kami inget jauh sebelum hari itu -- sebelum punya pacar -- kami pernah ngobrol cukup serius tentang pasangan idup. Masing-masing kami nggak ada yang terlalu ngotot tentang itu. Kami nggak pasang target apa-apa. Nggak taunya, aliran yang kami ikutin tanpa perlawanan malah nganter kami ke orang-orang yang hari ini jadi pasangan idup kami masing-masing.

“Apa yang bikin lu yakin sama Ririe?” Dea nanya ke Hakim.
Hakim ngejawab dengan sederhana, “Rasanya dia yang paling pas aja. Jadi langsung gua ajak nikah”. 


Hari Sabtu 29 November 2014, Dea dateng ke nikahan Ririe dan Hakim. Ngeliat mereka berdua rasanya seneeeeng banget. Dea nggak pernah ngeliat Hakim natap perempuan sesayang dia natap Ririe hari itu. Hakim punya banyak temen main perempuan, tapi justru karena itulah jadi jelas keliatan kalau cuma Ririe yang dapet perlakuan spesial. Ririe bisa bikin Hakim nunjukin segala kualitas terbaiknya. Kenapa? Karena cuma Ririe yang tau “kuncian”-nya Hakim. Hari itu Dea jadi sadar kalau pernyataan “rasanya dia yang paling pas” nggak sesederhana kedengerannya.

Lao Tzu pernah bilang:

“Stop leaving and you will arrive.
Stop searching and you will see.
Stop running away and you will be found.” 

kayaknya ucapan terima kasih ini punya nilai filosofis, deh

Dea tau Hakim udah nemuin partner paling pas untuk nempuh perjalanan panjang menuju laut. Seseorang yang nyaman ngalir bersama Hakim, dan bikin Hakim pun nyaman ngalir tanpa tersumbat. Pasangan yang tawanya seger dan lincah seperti gemericik air sungai. Tawa yang Hakim suka banget. Tawa yang bikin dunianya Hakim tenang dan meriah sekaligus.

Rukmunal Hakim dan Ririe Cholid, selamat  nempuh perjalanan bersenang-senang, ya. Salam buat ikan yang lucu-lucu, bunga yang cantik-cantik, rumput-rumput seger, kaki-kaki yang nyebrangin sungai, dan hal menarik apapun yang kalian temuin di sepanjang jalan.

Inget baik-baik selama kalian mengalir bersama. Sebesar apapun batunya, jangan pernah takut nabrak batu kali. Be sure about this:

Nggak pernah ada air yang jadi luluh lantak karena ketabrak batu kali :D

Ririe dan Hakim. foto dipinjem dari Wickana

 iklan: setiap bulan Zodiak Gembira hadir di rubrik Costellation Th!ngs Magazine

Sabtu, 08 Maret 2014

Mari Berbuat Musrik!



Pada suatu hari, di tengah obrolan kami yang random adanya, Dea nanya ke Ikan Paus.



“Kamu kalo lagi seneng atau sedih nggak terinspirasi bikin lagu, ya?”

“Mmm … enggak. Masalahnya aku jarang terlalu emosional kalo ngalamin sesuatu. Tapi buat aku musik ada emosinya sendiri. Kamu kalo nulis sebaliknya, ya?”

“Iya. Aku kan liat apaan aja bisa emosional. Liat kresek aja bisa terharu…”

Ikan Paus ketawa.

“Apa hal paling emosional di idup kamu?”  Dea nanya ke Si Ikan Paus.

Ikan Paus tampak kebingungan sebelum akhirnya ngejawab, “Saking jarangnya aku sampe nggak tau. Kayaknya nggak pernah ada kejadian yang sampe segitu-gitunya buat aku. Kalau kamu?”

“Hmmm,” gantian Dea yang bingung, “Kalo aku … saking banyaknya, aku sampe nggak tau mana yang paling emosional …”





Gara-gara itu, kami jadi kepikiran untuk berbuat musrik alias … musik dan lirik … hehehe. Tantangannya, kami nggak boleh saling ngebunuh karakter masing-masing yang khas tapi bertolak belakang. Setelah ngobrol segala macem, akhirnya kami punya ide bikin usaha soundtrack personal. Jadi gini. Temen-temen yang mau nikah, mau ngasih hadiah ulangtaun ke orang terkasih, mau ngucapin salam perpisahan, atau mau bikin lagu tentang peristiwa apapun yang mereka alamin secara personal di idup mereka, bisa ngorder jasa kami.  Nanti Dea ngobrol sama si klien untuk dapet ceritanya, Ikan Paus ngegarap musiknya.



“Kita coba, yuk. Bikin buat siapa, ya?” tanya Ikan Paus.

“Hmmm … yang paling deket, sih … nikahan Nunu,” saut Dea. Nunu adalah salah satu sahabat terbaik Dea sejak awal kuliah.

“Ya udah. Yuk kita bikin lagu untuk Nunu,” ajak Ikan Paus.

“Tapi Nunu nikahnya minggu depan, lho. Keburu apa?”

“Keburulah,” saut Ikan Paus dengan yakin.

Karena Ikan Paus yakin banget, Dea ikut yakin juga.



Singkat cerita, kami mulai bikin lagu. Nggak terlalu susah karena Dea udah sepuluh taun lebih bersahabat sama Nunu. Dea juga ngikutin kisah dia dan istrinya, Devita, dari mulai PDKT. Jadi bahannya sih udah cukup.



Sedikit cerita, Nunu dan Devita adalah pasangan yang nggak bisa dilepasin dari cokelat. Nunu dosen dan penulis yang udah nerbitin kumpulan cerpen tentang cokelat, judulnya “Satu Masa di Ciello”. Sementara Devita punya usaha homemade cokelat yang namanya Denu Coklat . Oleh sebab itulah Dea mutusin untuk bikin lagu yang nggak jauh-jauh dari cokelat.



Couverture adalah cokelat dengan kualitas paling murni dan paling enak yang kadang-kadang dipake untuk ngelapisin makanan seperti biskuit, buah, permen, dll. Kalau kamu pernah makan chocolate fountain … nah, itu pake couverture.



Lagu ini digarap secara swadaya banget. Bukan ambisius kalo "Biskuit Pada Couverture" sepenuhnya dikerjain sama Ikan Paus dan Dea doang, ini tuntutan keadaan aja. Semua alat musiknya Ikan Paus sendiri yang maininin. Mulai dari piano, flute, horn, bass, cello, sampe cymbal2nya. Karena nggak ada penyanyi lagi, terpaksa Dea sendiri yang nyanyi. Sejujurnya lagu ini agak susah buat Dea yang basic-nya bukan penyanyi, jadi mohon maaf ya kalo terdengar bagai orang as as as asma soho yaho. 






Biskuit Pada Couverture

Verse 1
Aku adalah adonan cerita
Yang diramu oleh takdir dan kala
Kamu adalah kelembutan cinta
Dari bahan terbaik yang ada

Reff
Sejak hari ini kutak lagi repih
Kau membuatku tak mudah terbelah
Di dalam balutmu yang penuh kasih

Suka dan duka yang takkan lagi terpilah

Verse 2:
Kemewahan hadir dengan sahaja
Hidupkan yang terbaik dalam kita
Tanpa saling mencari kita bersua

Temukan makna saat bersama

Reff

Suatu saat perjalanan waktu
Akan membuat kisah kita beku
Tetapi rasa tak akan pernah hambar
Dan kesetiaan takkan pernah cemar 2x



 



Untuk sementara ini Ikan Paus dan Dea masih tes-tes pasar. Kalau ada yang kepengen mesen jasa kami, bisa email ke fauziew@gmail.com atau salamatahari.sundea@gmail.com. Isi paket dan harganya masih bisa dinegosiasikan.



Gitu deh ceritanya. Last but not least, selamat sekali lagi untuk Nunu dan Devita yang udah resmi jadi suami-istri 2 Maret 2014 kemaren. Semoga jadi keluarga sakinah mawadah warohmah tapi tetep rock and roll!

diambil dari undangan nikah Devita-Nunu

Selamat Menyambut Hari Musik Nasional tanggal 9 Maret ...

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah ...

Senin, 17 Februari 2014

Ibnu Rizal A



foto dokumentasi Jarak Pandang



“Kamu capek, ya? Sini,” kata Ibnu sambil ngulurin tangannya.

Dea nyambut uluran tangan Ibnu.

“Kalau lagi capek, biasanya enak kalau tangannya dipegang gini,” kata Ibnu sambil ngegenggam tangan Dea.



Ibnu bener. Rasanya nyaman. Dipegang tangannya bikin Dea ngerasa nggak sendirian di tengah lingkungan yang agak asing. Hari itu Ibnu satu-satunya orang yang sadar kalo Dea lagi ngerasa nggak terlalu nyaman. Dia juga tau persis apa yang harus dia lakuin untuk bikin Dea ngerasa lebih enak. Mungkin karena Ibnu zodiaknya Pisces. Setau Dea, biasanya orang Pisces berperasaan halus dan empatik.



Apa yang Ibnu lakuin hari itu, bikin Dea selalu ngerasa nyaman setiap kali ada Ibnu di sekitar. Ibnu juga sempet jadi editor di Gagas Media, penerbit yang nerbitin beberapa buku Dea. Di masa-masa itu kami jadi lebih sering in touch. Ngobrol sama Ibnu ngebawa rasa tentram tersendiri. Di samping sifat sensitifnya, Ibnu punya kelembutan dan bawaan caring yang natural ke semua orang.



Setelah sekian lama nggak ketemu Ibnu, tau-tau Dea dapet kabar ngagetin dari temen-temen. Menurut diagnosa dokter, Ibnu kena meningitis. Katanya virusnya udah nyebar di cairan otak sampe 75%. Sekarang kondisi Ibnu kritis, koma di Rumah Sakit Antam Medika Depok, Rawamangun. Keluarganya udah pasrah, berharap yang terbaik aja untuk Ibnu.

foto dipinjem dari Andi Rharharha




Buat temen-temen yang kenal juga sama Ibnu, jangan putus ngedoain Ibnu, ya. Kalau ada yang mau ngasih bantuan dana, bisa transfer ke Ajeng, manajernya Ruang Rupa di rekening BCA 7330785998 atas nama Ajeng Nurul Aini.



Dea nggak tau mau nulis apa lagi. Jadi Dea nyuplik lirik lagu “Hold My Hand”-nya Hottie and The Blowfish aja:



With a little love, and some tenderness

We'll walk upon the water

We'll rise above this mess

With a little peace, and some harmony

We'll take the world together

We'll take 'em by the hand


'Cause I've got a hand for you



Dea rasa ini saatnya Dea yang gantian ngulurin tangan ke Ibnu sambil bilang, “Kalau lagi capek, biasanya enak kalau tangannya dipegang gini”.



Semoga idup dan segala misterinya nyiapin hadiah terbaik untuk Ibnu di depan sana …